Home » Posts filed under Umum
Saturday, 28 September 2013
Postmodern, Postmodernism, Postmodernity
Thursday, 19 September 2013
Guru Profesional
Jika mengajar dipahami sebagai kegiatan mentransfer ilmu kepada siswa, maka mengajar itu sendiri hanya akan terbatas pada penyampaian ilmu itu saja. Guru di pihak pertama menyampaiakan ilmu dan siswa di pihak kedua akan menerima secara pasif. Prosesnya pun bisa diketahui, pembelajaran akan berjalan secara membosankan. Karena yang mendominasi pembelajaran adalah guru, sedangkan siswa hanya sebagai penerima.
Namun, apabila mengajar dimaknai sebagai segala upaya yang dilakukan dengan sengaja untuk menciptakan proses belajara pada siswa dan mencapai tujuan yang telah dirumuskan, maka jelas bahwa yang menjadi sasaran akhir dari proses pengajaran itu ialah siswa belajar. Artinya dalam hal ini segala upaya apapun dapat dilakukan selagi bisa dipertanggungjawabkan, dan bisa menghantarkan siswa menuju pencapaian tujuan belajar yang telah dicanangkan, artinya siswa belajar secara aktif, dan yang mendominasi dikelas adalah siswa.
Kesimpulannya, hakekat menjajar itu merupakan usaha guru menciptakan dan mendesain proses belajar pada siswa. Jadi yang terpenting dalam belajar mengajar itu bukanlah bahan yang disampaikan oleh guru, akan tetapi proses siswa dalam mempelajari bahan tersebut (guru lebih menghargai proses dari pada hasil). Sekali lagi peranan yang menonjol dalam belajar mengajar ada pada siswa, ini bukan berarti bahwa peranan guru tersisihkan, hanya diubah saja.
Jadi, guru yang profesional adalah guru yang dapat melakukan tugas mengajarnya dengan baik melalui keterampilan-keterampilan khusus agar tercipta sebuah pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan meyenangkan.
Wednesday, 20 March 2013
Inilah 5 Kesamaan Dari Jokowi dan Obama
Saat ini, Obama akan kembali bertarung dalam Pilpres AS melawan Mitt Romney. Polling menunjukkan Obama berimbang dengan lawannya Mitt Romney. Namun, Obamamania seperti redup di Indonesia. Kali ini, publik lebih terkesima dengan pesona Joko Widodo, atau Jokowi, Gubernur DKI Jakarta yang baru mengalahkan Fauzi Bowo dalam Pilgub DKI. Berikut 5 kemiripan Obama dan Jokowi.
1. Karisma
Dalam Kamus besar Bahasa Indonesia, karisma dijelaskan sebagai keadaan atau bakat yang dihubungkan dengan kemampuan yang luar biasa dalam hal kepemimpinan seseorang untuk membangkitkan pemujaan dan rasa kagum dari masyarakat terhadap dirinya. Baik Jokowi dan Obama memiliki karisma yang mampu mendulang kepercayaan publik.
Baik Jokowi dan Barack Obama sama-sama memiliki karisma yang mampu menarik perhatian pemilih. Saat pemilihan wali kota Solo, Jokowi memang fenomenal. Dia menduduki kursi wali kota Solo sejak 2005 setelah memenangkan kontestasi berduet dengan FX Hadi Rudyatmo. Dari persentase suara sah, Jokowi-Rudy mendapat 36,62 persen suara.Sebagai pasangan incumbent, Jokowi-Rudy kembali maju kontestasi pada 2010. Keduanya menang mutlak dengan perolehan sekitar 90 persen suara. Dari Solo, Jokowi bertarung di Jakarta. Karisma Jokowi mampu menaklukkan gubernur petahana Fauzi Bowo. Dalam dua putaran, semuanya dimenangkan oleh Jokowi.
Di Amerika Serikat, Barack Obama juga punya karisma yang mampu mendudukkannya di Gedung Putih empat tahun lalu. Sebelum mengalahkan John McCain, dalam nominasi capres Demokrat, Obama menaklukkan Hillary Clinton. Pada inagurasi sebagai Presiden AS 20 Januari 2009, sebanyak 1,8 juta orang datang ke National Mall di Washington dalam suhu dingin. Obama menjadi presiden dengan tingkat kepuasan mencapai 68 persen.
2. Suka Musik Rock
Gubernur DKI Joko Widodo dikenal menyukai musik. Namun, aliran musik yang disukai Jokowi bukan musik yang umumnya digemari para pejabat. Sebab, Jokowi menyukai musik metal.
"Saya enggak bisa nyanyi, tapi saya suka musik metal, seperti Led Zeppelin," kata Jokowi saat ditanya aliran musik yang disukainya oleh wartawan di Monas, Jakarta, Minggu (28/10). Jokowi memang dikenal menyukai musik rock. Musik itu disukainya sejak ia masih ABG. Bahkan, salah satu yang dibawanya ke Jakarta saat ia terpilih menjadi gubernur DKI adalah kaset rock kesayangannya.
"Saya cuma bawa baju dan kaset rock," kata Jokowi. Jokowi mengungkapkan mengapa dia membawa kaset kesayangannya itu. Sebab, di Jakarta semua sudah ada. Jadi yang dibawa hanya kaset koleksinya. "Ada 30 album kaset rock," ujar Jokowi.
Sementara Obama mengaku juga punya kesukaan pada musik rock. Belum lama ini Obama ditanya apa daftar lagu dalam iPod-nya, Obama menyebut nama Rolling Stones dan Bob Dylan. Sementara Bruce Springsteen, diketahui berkampanye untuk Obama.
3. Janjikan Perubahan
Jokowi dan Basuki Tjahaja Purnama mengusung misi perubahan untuk Jakarta. Tagline kampanye keduanya pada Pilgub Jakarta baru lalu adalah Jakarta Baru. Artinya, Jokowi mengajak warga Jakarta untuk berubah dibandingkan dengan situasi pada kepemimpinan sebelumnya. Slogan Jakarta Baru mampu menarik perhatian pemilih.
Dalam awal pernyataannya setelah menang, Jokowi mengucapkan terima kasih kepada seluruh warga Jakarta atas terselenggaranya Pilgub DKI yang tertib, lancar, jujur, bersih, aman, adil dan tidak ada masalah sekecil apapun. "Setelah ini kita semua ingin nantinya bergerak bersama-sama bersatu tidak terpecah-pecah dalam membangun kota Jakarta. Untuk Jakarta baru yang lebih baik," katanya.
Sama halnya dengan Jokowi, Obama juga menawarkan perubahan dibandingkan kepemimpinan George W Bush. Slogan kampanye Obama yang sangat populer adalah "Hope and change" alias harapan untuk sebuah perubahan.
4. Suka Bakso
Gaya kepemimpinan Gubernur DKI Joko Widodo mengundang decak kagum. Kesan merakyat saat kampanye, terus dilakukan ketika sudah terpilih. Jokowi pun semakin sering turun langsung menemui warga.
Salah satu momen yang paling diingat adalah ketika Jokowi bertemu warga di kawasan Kramat Jaya, Jakarta Pusat. Kala itu Jokowi mengajak warga menyantap bakso. Dia pun berjanji akan melindungi pedagang bakso serta masyarakat yang mengkonsumsi bakso.
Ternyata bakso memiliki kenangan khusus dibenak Presiden AS Barack Obama. Ketika menghadiri jamuan makan malam di Istana Merdeka, Obama disuguhkan makanan berbentuk bulat tersebut.
"And thanks for bakso, nasi goreng, emping, and kerupuk, semuanya enak," kata Obama dalam bahasa Indonesia kala itu. Obama yang pernah tinggal selama empat tahun di Indonesia ternyata memang menggemari bakso dan nasi goreng.
5. Postur Langsing Dengan Kemeja Putih Digulung
Apa kesamaan Presiden AS Barack Obama dengan Gubernur DKI Joko Widodo? Memang secara kebangsaan dan silsilah jauh berbeda. Namun jika diperhatikan, secara fisik keduanya sama-sama berpostur langsing, tetapi memang Obama jauh lebih tinggi.
Selain itu, dalam berpenampilan antara Obama dan Jokowi sama-sama doyan berpenampilan casual. Sering kali saat tampil di hadapan publik Obama dan Jokowi mengenakan kemeja putih lengan panjang digulung.
Thursday, 17 January 2013
Pendidikan Berbasis Kultur
Pendidikan indonesia terus mencari bentuk baru guna mensinergikan dengan
tuntutan zaman. Tak ayal muncul berbagai formulasi kurikulum setiap
periodenya. Tercatat kurikulum pendidikan di Indonesia telah mengalami
delapan kali reformulasi. Pasca kemerdekaan kurikulum pertama yang
diterapkan adalah Rencana Pelajaran 1947. Kemudian Rencana Pelajaran
Terurai tahun 1952, Kurikulum 1968, kurikulum 1975, kurikulum CBSA 1984,
Kurikulum 1994 dan suplemen kurikulum 1999, Kurikulum berbasis
kompetensi, dan Kurikulum tingkat satuan pelajaran 2006.
Reformulasi
kurikulum ini dinilai banyak pihak sarat akan nuansa politis, meskipun
dengan dalih memajukan pendidikan Indonesia.Dalih yang kerap kali
digunakan adalah perubahan tersebut merupakan konsekuensi logis dari
terjadinya perubahan sistem politik, sosial budaya, ekonomi, dan iptek
dalam masyarakat berbangsa dan bernegara. Sebab, kurikulum sebagai
seperangkat rencana pendidikan perlu dikembangkan secara dinamis sesuai
dengan tuntutan dan perubahan yang terjadi di masyarakat.
Sayangnya
dari sekian banyak perubahan kurikulum tersebut aspek sosio-kultur
kurang mendapat perhatian. Selama ini kurikulum lebih bersifat equality
(pukul rata) di seluruh lembaga pendidikan di pelbagai penjuru
Indonesia. Artinya, kurikulum sekolah-sekolah di perkotaan, disamakan
dengan dengan kurikulum sekolah di pedesaan, kurikulum sekolah di
Jakarta sama dengan kurikulum di daerah pedalaman Kalimantan. Padahal
sudah barang tentu kebutuhan masing-masing berbeda, dan itulah yang
seharusnya dijawab oleh pendidikan.
Orientasi pendidikan yang
utama adalah menjawab kebutuhan masyarakat. Sebagaimana termaktub dalam
UU No. 20 tahun 2003, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk
mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik
secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan
spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak
mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa
dan negara.
Nampak jelas titik point orientasi pendidikan di
atas, adalah mengembangkan potensi individu untuk memenuhi kebutuhan
diri, masyarakat, bangsa dan Negara. Equality kurikulum pendidikan
menjadikan pendidikan absurd, tidak membekas dibenak peserta didik
karena terlalu utopis alias tidak dapat diaplikasikan dalam kehidupan
sehari-hari. Sungguh ironis melihat kondisi real pendidikan seperti ini.
Pendidikan Berbasis Kultur
Pendidikan
harus selalu berdialekita dengan keadaan sosio-kultur. Tanpa demikian,
pendidikan menjadi alat untuk mencerabut masyarakat dari kultur yang
selama ini diwarisinya. Paulo freire (1976;214) menegaskan, pendidikan
seperti ini melanggengkan status quo penindasan dan kebodohan. Padahal,
menurutnya, pendidikan seharusnya menjadi alat untuk membebaskan manusia
dari segala bentuk penindasan dan ketertindasan yang dialami
masyarakat.
Firdaus M. Yunus (2004) mengatakan pendidikan harus
mampu menjawab dan bertanggung jawab setiap masalah dan memenuhi
kebutuhan masyarakat. Hal ini perlu dilakukan agar pendidikan memiliki
basis sosio-kultur dan tidak absurd. Artinya, pendidikan dimanapun dan
kapanpun tidak akan pernah berdiri bebas tanpa berkaitan secara
dialektis dengan lingkungan dan sistem sosial dimana pendidikan
diselenggarakan.
Apalagi saat ini sudah diberlakukan otonomi
daerah, yang di dalamnya juga mencakup bidang pendidikan. Tentu aspek
pendidikan harus dibuat sedemikian rupa agar bersinergi dengan kebutuhan
dasar masyarakat. Singkatnya , meminjam paparan Barnadib (1996),
sejumlah perangkat pendidikan (kurikulum) perlu diperuntukkan sesuai
dengan kebutuhan sosio-kultur masyarakat.
Pendidikan berbasis
kultur pun menyeruak untuk menjawab tuntutan pendidikan di atas.
Pendidikan semacam ini mensyaratkan orientasi utama dari urgensi
pendidikan adalah menjawab kebutuhan masyarakat tempat pendidikan
diselenggarakan. Pendidikan di perkotaan harus berbeda dengan pendidikan
di pedesaan.
Potensi alam indonesia sangat kaya raya dan
melimpah ruah namun mengapa rakyat pribumi kurang mampu mengelolanya.
Contoh kecil Freeport di Papua, Exon Mobile di Cepu, namun justru bangsa
asing-lah yang menikmati kekayaan ini. Ketika ditelisik lebih dalam,
akar muaranya adalah pendidikan kurang menyentuh aspek lingkungan
sekitar (sosio-kultur).
Pendidikan hanya menyuguhkan materi-materi yang kurang relevan ketika diaplikasikan bagi kehidupan steakholders.
Walhasil, pendidikan pun menjadi bias dan tak berbekas. Semestinya
Indonesia mampu menghidupi Negara dari sumber daya alam, bahkan menjadi
Negara pengekspor komoditas terbesar. Namun fakta berkata sebaliknya,
indonesia malah aktif mengimpor dan menjadi Negara terbesar pengekspor
TKI.
Seharusnya potensi alam inilah yang harus dijawab melalui
pendidikan penduduk sekitar. Sehingga manfaat pendidikan bagi kehidupan
pun nyata. Pun dengan masyarakat agraris, pendidikan harus mampu
mengakomodir pertanian, misal dengan menciptakan bibit unggul ataupun
menemukan terobosan baru lainnya. Begitulah seterusnya, masyarakat
maritim, perindustrian, harus dioptimalkan potensinya secara inovatif
melalui lokus pendidikan.
Dengan demikian terwujud fungsi
masing-masing Individu di Indonesia. Satu sama lain saling membutuhkan
dan menguntungkan (mutual). Potensi yang dimiliki setiap kultur pun
dapat dimanfaatkan secara optimal dan fungsional. Walhasil pendidikan
pun memperoleh porsi aslinya sebagai wahana pemenuhan kebutuhan
masyarakat sesuai yang termaktub di UU. Semoga!!!
Waspada Penyakit Guru
Masih
ditemukan guru kita yang terjangkit penyakit di awal tahun ajaran baru
ini, seperti tipus (tidak punya selera), asma (asal masuk kelas), asam
urat (asal sampaikan materi urutan kurang akurat), diare (di kelas anak
diremehkan), hipertensi (hiruk persoalan tentang sertifikasi), dan
lain-lain. Berderet penyakit kronis yang meniscayakan pendidikan kita
akan terjerumus dalam lubang kegagalan ini harus segera diobati apabila
tidak menginginkan pendidikan kita kian bertambah meringsek. UU No 14
tahun 2005 tentang guru dan dosen (UUGD) telah dilantunkan pemerintah
sebagai alternatif supaya para pengajar lebih kompeten. Guru diharapkan
mampu mengelola pembelajaran, meliputi pemahaman terhadap peserta didik,
perancangan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, serta
pengembangan peserta didik untuk mengkualifikasikan berbagai potensi
yang dimiliki.Guru yang Baik dan Reformasi Sistem Pembelajaran di Kelas
Semasa sekolah, tentu kita pernah
diajarkan tentang semboyan Ki Hajar Dewantara bukan? Mungkin dari
sebagian dari kita pun sudah lupa semboyan tersebut atau ada pula yang
masih ingat semboyan Ki Hajar Dewantara yaitu Tut Wuri Handayani (dari
belakang seorang guru harus bisa memberikan dorongan dan arahan), ing
madya mangun karsa (di tengah atau di antara murid, guru harus
menciptakan prakarsa dan ide), dan ing ngarsa sung tulada (di depan,
seorang pendidik harus memberi teladan atau contoh tindakan baik).
Semboyan ini masih tetap dipakai dalam dunia pendidikan kita. Ketiga
semboyan ini, mengambarkan bahwa guru atau pendidik diasosiasikan
sebagai orang yang memiliki tugas mulia mengabdi kepada bangsa dalam
mencerdaskan masyarakat.
Dalam dunia pendidikan, seorang guru
mempunyai peranan penting dalam suatu negara. Di Indonesia sendiri guru
dikenal dengan julukan sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Begitu pula
profesi guru mendapat perhatian lebih yaitu dengan dengan adanya
undang-undang yang mengatur tentang profesi keguruan. ‘Dalam
Undang-Undang Guru dan Dosen (UUGD) pasal 16 disebutkan bahwa guru yang
memiliki sertifikat pendidik, berhak mendapatkan insentif yang berupa
tunjangan profesi. Besar insentif tunjangan profesi yang dijanjikan oleh
UUGD adalah sebesar satu kali gaji pokok untuk setiap bulannya.
Peraturan yang dibuat pemerintah ini bukan tanpa alasan. Pemerintah
dengan kebijakan mengenai guru bertujuan untuk memperbaiki kualitas guru
karena selama ini kualitas guru dipandang masih rendah.
‘Keterpurukan
mutu pendidikan di Indonesia juga dinyatakan oleh United Nation
Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO)-Badan
Perserikatan Bangsa-Bangsa yang mengurus bidang pendidikan. Menurut
Badan PBB itu, peringkat Indonesia dalam bidang pendidikan pada tahun
2007 adalah 62 di antara 130 negara di dunia. Education development
index (EDI) Indonesia adalah 0.935, di bawah Malaysia (0.945) dan Brunei
Darussalam (0.965).
Rendahnya mutu pendidikan di Indonesia juga
tercermin dari daya saing di tingkat internasional. Daya saing Indonesia
menurut Wordl Economic Forum, 2007-2008, berada di level 54 dari 131
negara. Jauh di bawah peringkat daya saing sesama negara ASEAN seperti
Malaysia yang berada di urutan ke-21 dan Singapura pada urutan ke-7.
Salah satu penyebab rendahnya mutu pendidikan di Indonesia adalah
komponen mutu guru. Rendahnya profesionalitas guru di Indonesia dapat
dilihat dari kelayakan guru mengajar’. [1]
Kita semua sepakat
bahwa kualitas guru sangat menentukan mutu pendidikan kita. Tanpa guru
yang profesional dan berkualitas dalam mengajar sulit untuk mencapai
mutu pendidikan yang baik. Guru yang berkualiatas adalah guru yang dalam
gaya mengajarnya dikelas dapat diterima dan dipahami oleh para siswa
ketika menyampaikan pelajaran. Tentu kondisi pembelajaran dikelas akan
efektif dan kondusif bagi para siswa. Hal ini akan memberikan efek
secara tidak langsung akan mempengaruhi motivasi dan prestasi belajar
para siswa.
Guru yang Baik
# Is fair and has good discipline
Seyogyanya guru memiliki disiplin dalam segala hal. Sebelum guru menuntut para siswanya untuk disiplin, sang gurulah yang terlebih dahulu memiliki sikap disiplin dalam dirinya.
# Has a good sense of humour/ smile
selalu menebar senyum kepada setiap siswa. Supaya guru dapat disenangi dan disukai oleh para siswanya sehingga akan membuat para siswa senang untuk belajar.
# Is intelligent/knows the subject
Seorang guru harus memiliki kecerdasan intelektual dalam mengajar di kelas. Dengan kecerdasan intelektual guru dalam mengajar, para siswa mendapat sumber pengetahuan dari guru. Dalam hal ini istilahnya biasa kita sebut dengan “ Transfer of Knowledge”. Namun, perlu diketahui pula bahwa kecerdasan intelektual tidak serta merta berdiri tunggal. Artinya harus diimbangi dengan kecerdasan moral.
Jika kecerdasan intelektual tidak diiringi dengan kecerdasan moral maka akan menghasilkan output siswa yang lebih mementingkan aspek kuantitas atau mementingkan keberhasilan ketimbang proses atau kualitasnya.
Segala cara dianggap halal, yang penting target tercapai semaksimal mungkin. Inilah yang terjadi pada masyarakat kita sehingga kasus plagiarisme (menjiplak karya tulis ilmiah milik orang lain) dan korupsi merajalela di kalangan orang terdidik. Karena itu kecerdasan moral akan mengawal kecerdasan intelektual sehingga akan mampu berlaku jujur dalam situasi apapun. Kejujuran adalah kunci keberhasilan dan kesuksesan.
# Set a good example
Menjadi contoh yang baik bagi para siswanya. Memberikan contoh suri teladan karena bagaimana pun juga guru adalah seorang yang mengemban misi menjadikan para siswanya kelak menjadi generasi muda yang menjunjung tinggi aspek moral dan berkarakter.
# Always helps people having difficulties
Seorang guru harus peka terhadap setiap permasalahan para siswanya di kelas. Kerap kali siswa mengalami hambatan dan kesulitan dalam proses belajar dan hambatan dalam memahami serta menangkap pelajaran. Untuk itu guru harus memiliki kepekaan terhadap siswa yang mengalami hal tersebut dan selalu bersedia membantu mereka yang mengalami kesulitan belajar.
# Gives incentives, reward or house points says “well done”
Memberikan insentif berupa penghargaan ataupun sekedar mengatakan “kamu melakukan tugas dengan baik” kepada siswanya. Hal ini akan membuat siswa merasa bersemangat dan termotivasi untuk belajar dan berprestasi di kelas.
# Is kind/patient
Sebagai seorang pendidik hendaknya memiliki sikap ramah terhadap setiap siswa dalam proses belajar mengajar di kelas. Agar tercipta suasana belajar para siswa menjadi santai dan menyenangkan serta tidak tertekan selama belajar di kelas.
# Understands/respects everyone as an individual
Selalu mengerti, memahami, dan dan selalu peduli terhadap perkembangan belajar setiap siswa. Memberikan dorongan kepada semua siswa untuk terus belajar dan berprestasi.
# Doesn.t give up/ believes in everyone
Guru juga harus memberikan suatu dukungan kepada setiap siswa ketika menghadapi suatu hambatan dalam belajar dan selalu percaya kepada setiap siswa bahwa mereka adalah murid-murid yang memiliki potensi besar untuk berkembang dan maju.
Menata Reformasi Sistem Pembelajaran di Kelas
Menurut penulis, yang dapat menentukan keberhasilan guru dalam meningkatkan belajar dan prestasi siswa di kelas yaitu, kualitas pola pembelajaran guru. Kualitas yang bersinergi dengan ruang kebebasan bagi para peserta didik untuk melakukan kreativitas dan menciptakan inovasi-inovasi dalam kegiatan belajar mengajar dikelas. Disini guru tidak lagi pilih kasih terhadap anak-anak yang pintar dan anak yang kurang pintar. Betapa ironisnya jika sang guru di Zaman sekarang ini masih saja berbuat pilih kasih dan tidak memberi perhatian secara merata kepada siswa-siswanya. Itu namanya bukan mencerminkan sifat guru sejati. Malah ia telah mendeskreditkan dan mengesampingkan hak asasi siswa untuk mendapatkan pelayanan pengajaran yang adil. Guru yang seperti itu tidak layak disebut sebagai guru, apalagi guru bangsa. Hanya berselimut gelar sebagai pahlawan ‘pencerdasan bangsa’ tetapi tindakan dan hasil pengajarannya berselimut ‘kejahatan semu’ terhadap perkembangan belajar siswa.
Para pendidik atau guru pun tak luput dari sorotan dan keterlibatan dalam ketertindasan pendidikan yang mengekang kebebasan kreativitas dan daya inovatif para siswa. Betapa tidak, kebanyakan gaya mengajar para pendidik di Indonesia khususnya sekolah formal tanpa disadari telah melahirkan budaya”silent” bagi para siswa. Mengapa dapat dikatakan seperti itu? Karena para pendidik menerapkan gaya mengajar klasikal, monoton, membosankan, dan berpusat pada guru. Memandang gurulah yang paling tahu dan pintar dalam pembelajaran. Tidak hanya itu culture domination pun kerap kali mewarnai proses kegiatan belajar mengajar di kelas oleh para pendidik. Para pendidik tersebut dianggap telah gagal menjalankan fungsinya sebagai guru yaitu mendidik para siswanya. Setiap siswa memang memiliki karakter dan sifat yang berbeda-beda serta gaya belajarnya yang berbeda-beda pada masing-masing anak. Untuk itulah disini sang guru harus dituntut mempunyai keahlian dalam mengahadapi para murid. Yaitu keahlian untuk dapat mereformasi sistem pembelajaran di kelas ke arah yang lebih baik.
Sudah saatnyalah kini guru-guru Indonesia untuk terus berpacu memperbaiki mutu kualitas SDM dalam mengajar dan menata sistem pembelajarannya di kelas. Melaksanakan dan menanamkan semboyan yang telah dicetuskan oleh Ki Hajar Dewantara yaitu pertama Ing ngarsa sung tulada (di depan, seorang pendidik harus memberi teladan atau contoh tindakan baik).Dari depan seorang guru harus memberikan suri teladan dan contoh yang baik kepada peserta didiknya melalui perilaku dan tindakannya selama kegiatan belajar mengajar dikelas.
Kedua, Ing madya mangun karsa (di tengah atau di antara murid, guru harus menciptakan prakarsa dan ide). Disini guru harus dapat menciptakan inovasi-inovasi dan ide baru dalam mengajar sehingga dengan inovasi tersebut dapat memacu dan meningkatkan mutu dan prestasi siswa.
Ketiga, Tut wuri handayani (dari belakang seorang guru harus bisa memberikan dorongan dan arahan). Guru dituntut harus dapat memberikan dorongan apabila ada siswa yang memerlukannya. Guru harus memiliki kepekaan terhadap siswanya yang mengalami masalah dalam pembelajarannya. Kemudian selain mendorong meningkatkan motivasi belajar siswa guru juga diharapkan dapat memberikan arahan. Mengarahkan siswa-siswanya tanpa pilih kasih dalam kegiatan belajar mengajar sehingga terjadi harmonisasi di antara semua peserta didik. Tidak ada yang merasa terdiskriminasi, tidak ada yang lebih dominan, dan tidak ada yang direndahkan ataupun merasa ditinggikan. Dengan arahan yang bijak, semua siswa akan merasa mendapatkan porsi pelayanan pengajaran yang adil dan merata sesuai dengan kapasitas dan kemampuan mereka.
Sunday, 30 December 2012
Misteri Senyuman Monalisa
Mengapa karya ini sangat dikagumi?
Hal ini tentunya mengandung teka-teki soal senyuman pada lukisannya.
Dr. Lillian Schwartz dari laboratorium Bell menduga bahwa Leonardo melukis dirinya sendiri, dia menguatkan teorinya dengan menganalisa struktur wajah Leonardo dan seseorang yang sangat terkenal dalam lukisannya, dia mengatur sedemikian rupa dan menggabungkan kedua wajah Leonardo dan Monalisa. Dan hasilnya perfect, mirip sekali dengan dugaan Schwartz.

Beberapa sumber juga mengatakan Monalisa disebut juga sebagai “La Gioconda” berdasar nama modelnya, yang diperkirakan adalah istri Francesco del Giocondo, seorang pedagang dari Florentine, yang dalam bahasa Italia, La Gioconda berarti juga wanita yang gembira.
Anda punya pendapat atau masukan lain? silahkan tinggalkan di pos komentar
Wednesday, 12 December 2012
7 Jurusan Kuliah Yang Menjanjikan Masa Depan
Thursday, 6 December 2012
Pengelolaan Kelas
A.KONSEP DASAR PENGELOLAAN KELAS
Menurut “ LOIS V Jonson “ dan “Maria bani” (class room menejement) yang di ikhtibarkan oleh DR. Made Pidarta (1970).
1. Pengelolaan kelas di tinjau dari konsep lama adalah mempertahankan ketertiban kelas
2. Pengelolaan kelas di tinjau dari konsep moderen adalah proses
seleksi dan penggunaan alat –alat yang tepat terhadap problem dan
situasi kelas
3. Konsep dasar pengelolaan kelas sangat
perlu dan penting dipahami oleh seorang pendidik karena konsep dasar
pengelolaan kelas berperan penting dalam menciptakan suasana kelas yang
konduksif.
B.TUJUAN PENGELOLAAN KELAS
Secara umum tujuan pengelolaan kelas adalah penyediaan fasilitas bagi
bermacam –macam kegiatan belajar siswa dalam lingkungan social .
Suharsimi Arikunto ,(1988:68) berpendapat bahwa bertujuan pengelolaan
adalah agar setiap anak dikelas padat bekerja dengan tertib sehingga
segera tercapai tujuan pengajaran secara efektif dan efisien tujuan
pengelolaan kelas pada hakikatnya telah terkandung dalam tujuan
pendidikan sebagai guru kita harus sadar tanpa mengelola kelas dengan
baik maka akan menghambat kegiatan belajar mengajar.
C. PENEGRTIAN PENGELOLAAN KELAS
Pengelolaan kelas berdiri dari dua kata yaitu : pengelolaan dan kelas
Kata Pengelolaan adalah berasal dari kata “kelola” ditambah awalan
“pe dan an”. Istilah lain dari pengelolaan kelas menagemen yang
berarti tata pimpinan pengelolan.
Sedangakan kelas menurut ‘’ UMAR HAMALIK (1987;311)’’ adalah kelompok
orang yang melakukan kegiatan belajar bersama yang dapat pengajaran dari
guru . “SUHARSIMI ARIKUNTO” berpendapat bahwa pengelolaan kelas adalah
suatu usaha yang dilakukan oleh penanggung jawab kegiatan belajar
mengajar / yang membantu dengan maksud agar di capai kondisi yang
optimal sehingga dapat terlaksana kegiatan belajarsiswa dapat berjalan
dengan lancar dan terciptanya kondisi belajar yang optimal untuk
berlangsungnya kegiatan belajar siswa.
D. BERBAGAI PANDANGAN TENTANG PENGELOLAAN KELAS
Arti pengelolaan kelas dapat ditinjau dari beberapa pandangan :
1. Pandangan otoriter bahwa pengelolaan kelas sebagai proses
mengontrol tingkah laku siswa atau seperangkat kegiatan guru untuk
mempertahankan ketrtiban kelas.
2. Pandangan permisif bahwa pengelolaan kelas adalah seperangkat kegiatan guru untuk memaksudkan kebebasan siswa.
3. Pandangan behavarior modivikation adalah seperangkat kegiatan guru
untuk mengubah tingkah laku siswa. (proses pengubahan tingkah laku)
kearah positif.
4. Pandangan proses kelompok, bahwa pengelolaan keles adalah
seperangkat kegiatan guru untuk menambahkan organisasi kelas yang
efektif.
E.KONSEP OPERASIONAL PENGELOLAAN KELAS
Agar tercipta suasana belajar yang menggairahkan. Perlu diperhatikan
pengaturan ruang kelas belajar penyusunan dan pengaturan ruang belajar
hendaknya memungkinkan anak duduk berkelompok dan memudahkan guru
bergerak secara leluasa untuk membantu siswa dalam belajar.
Dalam pengaturan ruang belajar, ada beberapa hal yang peerlu diperhatikan:
a. Ukuran dan bentuk kelas
b. Bentuk serta ukuran bangku dan meja siswa
c. Jumlah siswa dalam kelas
d. Jumlah siswa dalam setiap kelompok
Komposisi siswa dalam kelompok (seperti siswa yang kurang pandai dan yang pandai, pria dan wanita).
F. PRINSIP PENDEKATAN DALAM PENGELOLAAN KELAS
Sebagai pekerja professional seorang guru harus mendalami kerangka acuan
pendekatan kelas,sebab di dalam penggunaannya ia harus terlebih dulu
meyakinkan bahwa pendekatan yang di pilihnya untuk menangani suatu kasus
pengelolaaan kelas merupakan alternative yang terbaiksesuai dengan
hakikat masalahnya.
Berbagai pendekatan yang guru lakukandalam rangka pengelolaan kelas :
1. Pendekatan kekuasaan
Pengelolaan kelas diartikan sebagai suatu proses untuk mengontrol
tingkah laku anak didik peranan guru disini adalah menciptakan dan
mempertahankan situasi disiplindalam kelas.
2. Pendekatan ancaman
Dari pendekatan ancaman ini pengelolaan kelas adalah juga sebagai suatu proses dalam mengontrol tingkah laku anak didik
3. Pendekatan pengajaran
Pendekatan ini di dasarkan atas suatu tanggapan bahwa suatu
perencanaandan pelaksanaan akan mencegah munculnya masalah tingkah laku
anak didik.
4. Pendekatan perubahan tingkah laku
a. Semua tingkah laku yang baik dan yang kurang baik merupakan hasil proses belajar.
b. Di dalam prosees belajar terdapat proses psikologis yang tanda mental berupa penguatan positif.
Dalam rangka memperkecil masalah gangguan oleh pengelolaan kelas,
prinsip – prinsip pengelolaan kelas dapat dipergunakan . maka adalah
penting bagi guru untuk mengetahui dan menguasai prinsip – prinsip
pengelolaan kelas yang akaan diuraikan sebagai berikut:
1. Hangat dan antusiasi
Hangat dan antusiasi sangat diperlukan dalam proses belajar mengajar.
2. Tantangan
Penggunaan kata –kata Tanya atau bahan – bahan yang menantang akan meningkatkan gairah anak didik untuk belajar.
3. Penanaman disiplin diri
Tujuan akhir dari pengelolaan kelas adalah anak didik dapat mengembangkan disiplin diri sendri.
Kualitas Pendidikan di Indonesia
Bagi orang-orang yang berkompeten terhadap bidang pendidikan akan menyadari bahwa dunia pendidikan kita sampai saat ini masih mengalami “sakit”.Dunia pendidikan yang “sakit”ini disebabkan karena pendidikan yang seharusnya membuat manusia menjadi manusia,tetapi dalam kenyataannya seringkali tidak begitu.Seringkali pendidikan tidak memanusiakan manusia.Kepribadian manusia cenderung direduksi oleh system pendidikan yang ada.
Masalah pertama adalah bahwa pendidikan,khususnya di Indonesia,menghasilkan”manusia robot”. Kami katakan demikian karena pendidikan yang diberikan ternyata berat sebelah, dengan kata lain tidak seimbang.Pendidikan ternyata mengorbankan keutuhan,kurang seimbang antara belajar berfikir(kognitif)dan perilaku belajar yang merasa (efektif).Jadi unsur integrasi cenderung semakin hilang,yang terjadi adalah disintegrasi.Padahal belajar tidak hanya berfikir.Sebab ketika orang sedang belajar,maka orang yang sedang belajar tersebut melakukan berbagai macam kegiatan,seperti mengamati,membandingkan,meragukan,menyukai,semangat dan sebagainya.Hal yang sering disinyalir ialah pendidikan seringkali dipraktekkan sebagai sederetan instruksi dari guru kepada murid.Apalagi dengan istilah yang sekarang sering digembar-gemborkan sebagai “pendidikan yang diciptakan manusia siap pakai.Dan”siap pakai”di sini berarti menghasilkan tenaga-tenaga yang dibutuhkan dalam pengembangan dan persaingan bidang industry dan teknologi.
Ada dua factor yang mempengaruhi kualitas pendidikan,khususnya di Indonesia yaitu:
1. Faktor internal,meliputi jajaran dunia pendidikan baik itu Depatemen Pendidikan Nasional,Dinas Pendidikan daerah, dan juga sekolah yang berada di garis depan.Dalam hal ini,interfensi dari pihak-pihak yang terkait sangatlah dibutuhkan agar pendidikan senantiasa selalu terjaga dengan baik.
2. Faktor eksternal, adalah masyarakat pada umumnya.Dimana,masyarakat merupakan ikon pendidikan dan merupakan tujuan dari adanya pendidikan yaitu sebagai objek dari pendidikan.
Banyak faktor-faktor yang menyebabkan kualitas pendidikan di Indonesia semakin terpuruk.Fakto-faktor tersebut yaitu:
1. Rendahnya Kualitas Sarana Fisik
Untuk sarana fisik misalnya,banyak sekali sekolah dan perguruan tinggi kita yang gedungnya rusak,kepemilikan dan penggunaan media belajar rendah,buku perpustakaan tidak lengkap.Sementara laboraturium tidak standar,pemakaian teknologi informasi tidak memadai dan sebagainya.Bahkan masih banyak sekolah yang tidak memiliki gedung sendiri,tidak memiliki perpustakaan,tidak memiliki laboraturium dan sebagainya.
2. Rendahnya Kualitas Guru
Keadaan guru di Indonesia juga amat memprihatinkan.Kebanyakan guru belum memiliki profesionalisme yang memadai untuk menjalankan tugasnya sebagaimana disebut dalam pasal 39 UU No 20/2003 yaitu merencanakan pembelajaran,melaksanakan pembelajaran,menilai hasil pembelajaran,melakukan pembimbingan,melakukan pelatihan,melakukan penelitian dan melakukan pengabdian masyarakat.
3. Rendahnya Kesejahteraan Guru
Rendahnya kesejahteraan guru mempunyai peran dalam membuat rendahnya kualitas pendidikan Indonesia.Dengan pendapatan yang rendah,terang saja banyak guru terpaksa melakukan pekerjaan sampingan.Ada yang mengajar lagi di sekolah lain,memberi les pada sore hari,menjadi tukang ojek,pedagang mie rebus,pedagang buku/LKS,pedagang pulsa ponsel, dan sebagainya.
4. Rendahnya Prestasi Siswa
Dengan keadaan yang demikian itu (rendahnya sarana fisik,kualitas guru,dan kesejahteraan guru)pencapaian prestasi siswa pun menjadi tidak memuaskan.
Anak-anak Indonesia ternyata hanya mampu menguasai 30% dari materi bacaan dan ternyata mereka sulit sekali menjawab soal-soal berbentuk uraian yang memerlukan penalaran.Hal ini mungkin karena mereka sangat terbiasa menghafal dan mengerjakan soal pilihan ganda.
Selain itu, hasil studi The Third International Mathematic and Science Study-Repeat-TIMSS-R,1999(IEA,1999)memperlihatkan bahwa,diantara 38 negara peserta,prestasi siswa SLTP kelas 2 Indonesia berada pada urutan ke-32 untuk IPA,ke-34 untuk matematika.Dalam dunia pendidikan tinggi menurut majalah Asia Week dari 77 universitas yang di survey di asia pasifik ternyata 4 universitas terbaik di Indonesia hanya mampu menempati peringkat ke-61,ke-68,ke-73,dank e-75.
5. Kurangnya Pemerataan Kesempatan Pendidikan
Kesempatan memperoleh pendidikan masih terbatas pada tingkat sekolah dasar. Data Balitbang Departemen Pendidikan Nasional dan Direktorat Jendral Binbaga Departemen Agama tahun 2000 menunjukkan angka partisipasi murni (AMP) untuk anak usia SD pada tahun 1999 mencapai 94,4% (28,3 juta siswa) pencapaian APM ini termasuk kategori tinggi . angka partisipasi murni pendidikan di SLTPmasih rendah yaitu 54,8% (9,4 juta siswa).
6.Rendahnya Relevansi Pendidikan dengan kebutuhan
hal tersebut dapat dilihat dari banyaknya lulusan yang menganggur . data BAPPENAS (1996) yang dikumpulkan sejak tahun 1990 menunjukkan angka pengangguran terbuka yang dihadapi oleh lulusa SMU sebesar 25,47 %,Diploma / SO sebesar 27,5% dan PT sebesar 36,6%.
Adanya ketidak serasian antara hasil pendidikan dan kebutuhan dunia kerja ini disebabkan kurikulum yang materinya kurang fungsional terhadap keterampilan yang dibutuhkan ketika peserta didik memasuki dunia kerja.
7. Mahalnya biaya pendidikan
Pendidikan bermutu itu mahal, kalimat ini yang sering muncul untuk menjustifikasi mahalnya biaya yang harus dikeluarkan masyarakat untuk mengenyam bangku pendidikan. Mahalnya biaya pendidikan dari tamn kanak – kanak (TK) hingga perguruan tinggi (PT) membuat masyarakat miskin tidak boleh sekolah.
Pendidikan secara garis besar kemajuan pendidikan tidak lepas dari mutu pendidikan ya.pendidikan sangat penting khususnya dalam mensejahterakan bangsa dan Negara. Sutau konsekuensi yang besar bila menitik beratkan pendidikan sebagai benteng pertahanan masa depan. Sehingga ancaman zaman bisa ter-elakkan.
Seain itu juga Selain Status Pendidikan yang dianggap rendah, Lapangan Kerjapun terbatas dan Gaji yang di terima bahkan relative minim. Perbedaan Pendidikan yang didapat dan Biaya yang di keluarkan untuk kuliah, mungkin jadi Tolak Ukur antara Pendidikan SMU dan Sarjana.
Tetaplah terus Berjuang untuk mendapatkan Hak Bekerja. Dan Bekerjalah dengan baik Walau dengan keterbatasan Pendidikan, Karena tidak menutup kemungkinan Lulusan SMU pun bisa sesukses Sarjana.Gali potensi diri untuk dijadikan Nilai lebih, pandai-pandailah Belajar dan Bergaul. Serta perbanyaklah Membaca untuk menambah Wawasan dan Pengetahuan dan Bekali Diri dengan Kursus-kursus yang bermanfaat.
Sunday, 2 December 2012
Pentingnya Pendidikan Seni Rupa Terhadap Perkembangan Otak Anak
Otak
adalah organ tubuh terpenting manusia yang tak hanya sebagai pusat
kontrol, tetapi juga pusat kendali, tetapi juga sebagai pusat kendali
atas semua sistem dalam tubuh. Otak merupakan organ inti kecerdasan dan
kemampuan berpikir manusia. Secara anatomi otak terbagi kepada beberapa
bagian. Bagian terbesar disebut dengan otak bear dengan dua belahan yang
terkenal dengan otak kiri dan otak kanan.- Pendidikan seni rupa mampu memberikan kebebasan tanpa paksaan dalam pengalaman batin anak.
- Pendidikan seni rupa merupakan pendidikan ekspresi sebagai upaya pencerdasan anak dalam membentuk mental yang sehat jasmani dan rohani, berdisiplin penuh tanggung jawab, kritis bijaksana, berbudaya dan memiliki perasaan halus terhadap berbagai persoalan yang lahir di sekitarnya.
- Pendidikan seni rupa mampu menghidupkan fantasi, melatih ketangkasan berfikir diiringi ketajaman penghayatan terhadap alam sekitar serta lingkungan dimana anak-anak berada.
- Pendidikan seni rupa mampu mendatangkan jiwa dan raga anak-anak hingga kelak mencintai daerahnya dengan dilandasi nilai estetis dan artistik.
Sunday, 18 November 2012
Cara Mengenali Minat dan Bakat Siswa
Banyak guru bingung dalam mengenali bakat dan minat siswanya. Ada siswa yang selama hidupnya tidak tahu bakatnya karena tidak pernah dieksplorasi. Tetapi ada anak yang dengan sendirinya mengenali bakat dan minatnya. Jika guru membantu anak mengenali bakat dan minatnya tentu perbuatan itu sangat membantu anak dalam mengembangkan hidupnya.
Bakat tidak sama dengan kecerdasan. Bakat lebih mengacu pada motorik maupun keterampilan yang ditampilkan anak. Dengan kata lain, bakat bisa terlihat oleh orang lain. Cara yang dilakukan adalah terus-menerus mengasah bakat melalui latihan. Bakat tidak akan berkembang bila tak ada penguat, sehingga kemudian hilang. Selain bakat, mereka juga mempunyai minat terhadap bidang yang digeluti. Adanya minat juga akan menguatkan bakat tersebut.
Sedikit Bantuan
Bagaimana bisa mengetahui kalau anak berbakat? Menurut Dra. Clara Kriswanto, MA, CPBC, psikolog dari Jagadnita Consulting, anak-anak yang berbakat umumnya lebih cepat menguasai bidang tertentu dibanding anak lain, tanpa mengeluarkan usaha keras.
Contohnya anak yang berbakat menyanyi, akan lebih mudah mengenali not, ketajaman nadanya juga bagus. Anak yang berbakat dalam bidang linguistik atau bahasa, bisa meniru atau menghafal bahasa asing lebih cepat.
Begitu anak yang mempunyai bakat menggambar atau melukis. Kualitas garis yang dimiliki anak tersebut akan terlihat lebih halus. Mereka mengerti warna, komposisi yang dibuat juga lebih bagus dan menarik.
Anak yang berbakat juga bisa mempelajari sesuatu dengan cara berbeda dibanding anak lain. “Anak berbakat hanya memerlukan sedikit bantuan dari orang dewasa. Mereka kerap memecahkan masalah dengan caranya sendiri,” ungkap perempuan yang menyelesaikan MA dalam bidang Applied Anthropology & Community and Youth Work Goldsmith College University of London.
Anak yang senang mengutak-atik mainan merupakan wujud dari minatnya terhadap benda tersebut. Baginya, mengutak-atik mainan merupakan eksplorasi dari keingintahuannya lebih lanjut.
Anak yang mempunyai bakat biasanya juga mampu memotivasi diri sendiri untuk mempelajari hal-hal yang sangat disukainya. Anak yang senang bermain piano atau berenang tak hanya berlatih saat gurunya datang. Mereka akan berlatih piano atau berenang tanpa disuruh.
“Idealnya, bakat yang dimiliki oleh anak sejalan dengan minatnya. Dengan begitu, potensi atau kemampuan yang dimiliki anak akan tergali secara optimal, sehingga anak mampu berprestasi,” tutur Clara.
Bangkitkan Minat
Sayangnya tak semua bisa berjalan beriringan antara bakat dan minat. Ada anak berbakat yang ternyata tidak berminat dengan bakat yang dimilikinya. Bila ini terjadi, kata psikolog lulusan UI ini, diperlukan dukungan lebih banyak dari orangtua, agar bakat anak bisa terasah secara optimal.
Kalau tidak mendapat dukungan dari orangtua atau dibangkitkan minatnya, bakat yang dimiliki anak tidak akan berkembang. Bisa saja anak tersebut agak lambat untuk mengembangkan kemampuannya, terutama ketika menyadari bahwa ia mempunyai bakat dalam bidang tertentu.
Madonna contohnya. Di usia 40 tahun, saat sudah mempunyai dua anak, ia membuat buku anak. Bakat yang dimilikinya baru disadari saat dirinya menjadi seorang ibu.
Sebenarnya hal serupa juga bisa terjadi pada anak yang mempunyai minat dalam bidang tertentu, tetapi tidak berbakat. Contohnya anak ingin mengikuti Indonesia Idol, tetapi tidak mempunyai bakat menyanyi. Nah, pada anak tipe ini, dibutuhkan usaha yang lebih keras dibandingkan anak berbakat. Caranya tentu saja dengan mengikuti les vokal untuk mendapat suara yang baik.
Yang penting, tambah Clara, orangtua perlu memperkaya minat anak. Jangan sampai anak hanya terpaku dengan satu minat saja. Anak yang berminat pada sepakbola, misalnya, sebaiknya juga dikenalkan dengan kegiatan lain.
“Katakan pada anak bahwa olahraga tidak hanya sepakbola. Masih ada kegiatan lain, seperti seni, yang bisa dikenalkan,” kata Clara.
Cara mudahnya adalah dengan mengenalkan anak kepada teman-teman sebaya yang mempunyai beragam minat dan bakat.
Lakukan Tes Bakat
Ada beberapa cara untuk mengenali bakat anak, yaitu:
1. Melihat tingkah laku anak. Kegiatan apa yang sering dilakukannya? Anak lebih berminat pada hal-hal apa?
2. Mengikuti perkembangan anak dengan cermat.
3. Memberikan berbagai macam stimulus atau rangsangan kepada anak, misalnya dengan memberikan les atau permainan yang variatif.
4. Melakukan tes psikologi (tes bakat) untuk melihat kelebihan dan kelemahan anak. Tes ini bisa dilakukan saat anak berusia 7 tahun atau saat masuk sekolah. Pada usia tersebut sudah terlihat bakat serta minat anak.
Pahami Perkembangan Anak
Menurut Dra. Clara Kriswanto, MA, CPBC, ada hal-hal yang perlu diperhatikan oleh orangtua saat memberikan les untuk anak.
1. Tidak mengutamakan pencapaian target. Penting diingat bahwa les diberikan sebagai upaya pengenalan kegiatan kepada anak.
2. Les sebaiknya diberikan oleh guru yang memahami perkembangan anak. Jangan sampai guru memberi hukuman saat anak tidak bisa mengikuti les. Clara mencontohkan, saat anaknya harus les piano, selalu menangis bila sudah sampai di tempat les. Setelah ditilik, rupanya guru les kerap mencubit atau memukul tangan anaknya bila tidak bisa mengikuti instruksi sang guru.
3. Pastikan anak tetap memiliki waktu yang seimbang untuk bermain dan istirahat.
4. Jangan memaksakan kehendak kepada anak. Yang harus diutamakan adalah minat anak.
5. Tetap pantau perkembangan anak.
6. Upayakan untuk mengembangkan semua aspek kemampuan anak.
Bakat Saja Tidak Cukup!
Psikolog Clara Kriswanto menegaskan bahwa bakat saja tidak cukup. Setidaknya diperlukan tiga hal lain yang akan mengasah potensi anak :
a. Harus ada dukungan dari orangtua maupun lingkungan
Dukungan yang diberikan tak hanya dalam bentuk materi, tetapi juga dukungan moril. Memberikan pujian (tanpa berlebihan dan terlalu sering) saat anak menunjukkan kemampuan juga menjadi bentuk dukungan. Bentuk dukungan juga bisa diberikan dengan tidak membanding-bandingkan anak dengan saudara atau temannya, apalagi sampai mendapat label negatif.
b. Tidak berhenti berusaha
Kalau anak tidak berminat, padahal mempunyai bakat di bidang seni atau olahraga, hendaknya orangtua tidak menyerah. Bisa saja anak merasa malas karena terlalu banyak les, hingga kelelahan. Ada baiknya tidak mengikutkan les terlalu banyak bagi anak. Orangtua hendaknya tidak memaksakan kehendak pada anak. Hukuman fisik seperti mencubit atau memukul saat anak tidak berlatih harus dihindari. Hukuman dapat membuat anak tidak tertarik pada kegiatan tersebut.
c. Berikan fasilitas yang memadai
Fasilitas yang diberikan tidak harus selalu mahal. Sediakan fasilitas sesuai kemampuan orangtua. (Sumber: Kompas. com/Diana Yunita Sari)
Tips Sukses Menjadi Guru ala Gisele Glosser
Sekali pun saya bukanlah ahli matematika, tetapi saya tertarik untuk menelusuri isi website ini, dan akhirnya saya menemukan sebuah artikel yang berjudul “Tips For New Math Teachers”, ditulis oleh Gisele Glosser. Tulisan ini bersi 15 Tips mengajar bagi guru Matematika pemula, yang isinya mungkin sebagian sudah dipraktikkan dalam tugas keseharian kita sebagai guru.
Saya berusaha memahami isi tulisan tersebut dan mengkonstruksikannya kembali dalam bahasa yang saya pahami. Setelah dilakukan berbagai penyesuaian, saya mencoba menuangkan kembali tulisan tersebut, dengan lingkup yang diperluas, tidak hanya berlaku bagi para guru Matematika pemula, tetapi mungkin dapat berlaku umum, untuk semua kalangan dan semua mata pelajaran.
Kelima belas tips mengajar tersebut adalah:
1. Berpikir kritis dan usaha yang jujur lebih penting daripada jawaban yang benar. Cobalah untuk tidak mengerutkan kening ketika siswa memberikan jawaban yang salah atau keliru. Mengerutkan kening seringkali ditafsirkan sebagai bahasa isyarat penolakan yang dapat menghambat siswa untuk berpartisipasi dalam mengekspresikan pemikirannya. .
2. Tidak ada pengajaran tanpa pengendalian. Lebih baik Anda bersusah payah pada hari-hari awal masuk sekolah untuk menemukan cara-cara terbaik dalam mengelola kelas dan mendisiplinkan siswa, daripada Anda harus melakukan perjuangan berat sepanjang semester karena Anda tidak berhasil menemukan cara yang paling efektif dalam pengelolaan kelas.
3. Kadang-kadang hal terbaik untuk dilakukan adalah berhenti berbicara. Jika terjadi kebisingan di kelas, Anda tidak perlu berteriak-teriak meminta para siswa agar berhenti gaduh. Cobalah Anda berdiri di depan kelas dengan tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, kemudian tataplah mereka (khususnya siswa yang menjadi sumber keributan) dengan tetap tanpa menunjukkan ekspresi marah.
4. Cobalah lakukan kegiatan yang bervariasi dari waktu ke waktu. Dalam proses pembelajaran rutinitas dan terstruktur memang hal yang baik, tapi apabila hal ini terlalu banyak dilakukan dapat menyebabkan Anda dan kelas Anda jatuh terjerembab ke dalam suatu kebiasaan yang membosankan.
5. Mendorong siswa untuk bepartisipasi aktif. Berikan kesempatan kepada setiap siswa untuk tampil di depan kelas atau mempersilahkan mereka untuk bekerja dalam kelompok. Sedapat mungkin hindari pembelajaran yang berpusat pada guru untuk sepanjang tahun.
6. Cobalah untuk bersikap fleksibel. Misalnya, pada saat berlangsung proses pembelajaran di kelas, Anda punya aturan ketat terhadap siswa tentang permen karet. Tetapi mungkin Anda dapat memejamkan mata untuk hal ini ketika siswa sedang menghadapi ujian.
7. Cobalah uraikan secara jelas topik-topik apa yang akan diujikan. Anda tidak hanya cukup dengan mengatakan dan menyuruh siswa “Minggu depan ulangan, silahkan Pelajari Bab 6!”. Perintah dan penugasan semacam ini akan dirasakan membingungkan, terutama bagi para siswa yang kurang memiliki keterampilan belajar.
8. Meminta dukungan manajemen. Adalah penting untuk mendapatkan dukungan dari manajemen ketika Anda berhadapan dengan isu-isu sulit, terkait dengan proses pembelajaran yang Anda lakukan. Misalnya, meminta dukungan untuk mengadakan konferensi dengan para orang tua siswa yang mengalami kesulitan dalam belajar.
9. Berikan siswa kesempatan untuk mengikuti ujian. Jika seorang siswa selalu hadir dalam setiap pertemuan di kelas, namun karena satu dan lain hal dia tidak bisa hadir pada hari ujian, Anda seyogyanya dapat memberikan kesempatan kepadanya untuk mengikuti ujian susulan dan jangan membiarkannya lebih dari satu atau dua hari.
10. Gunakan teknik “Front Loading”. Para siswa cenderung lebih termotivasi untuk belajar pada awal masuk sekolah. Pada awal masuk sekolah, selain diajak meninjau kembali materi pada semester sebelumnya, secara garis besarnya siswa juga diajak untuk mengenal topik-topik yang hendak dipelajarinya selama satu semester ke depan
11. Ajarkan para siswa untuk memiliki keterampilan memecahkan masalah. Ketika siswa Anda memasuki dunia kerja atau terjun ke masyarakat, sudah pasti dia akan banyak berhadapan dengan berbagai masalah yang harus dia selesaikan dengan baik. Melalui pembelajaran yang Anda lakukan diharapkan para siswa akan terbiasa dan terampil dalam memecahkan aneka masalah yang dihadapinya..
12. Berikan penghargaan atas setiap hasil dan usaha belajar mereka. Penghargaan yang Anda berikan akan memberikan motivasi kepada para siswa untuk mengerjakan sesuatu lebih baik lagi
13. Lakukanlah yang terbaik dari diri Anda dan bersikap adillah kepada seluruh siswa, maka Anda akan mendapatkan rasa hormat dari mereka. Krisis kepercayaan kepada guru seringkali bersumber dari ketidaksanggupan untuk menampilkan yang terbaik kepada siswanya.
14. Motivator terbaik adalah menghubungkan pembelajaran dengan dunia nyata. Jangan lepaskan pembelajaran dari dunia nyata siswa, belajarkanlah mereka hal-hal yang berhubungan dan menyentuh langsung kehidupan mereka Misalkan guru Matematika ketika sedang membelajarkan tentang sistem metrik, mintalah kepada siswa membawa kertas karton kosong dan botol-botol dari dapur mereka, untuk dijadikan sebagai media pembelajaran.
15. Di sekolah-sekolah tertentu, adakalanya siswa dikelompokkan berdasarkan kemampuan (kelas unggulan). Hal ini membuat mereka lebih menonjol dibandingkan peserta lainnya. Di satu sisi, cara ini dapat memberikan kemudahan bagi guru untuk memberikan pelayanan pembelajaran secara homogen, namun di sisi lain juga dapat menimbulkan kecemburuan sosial.
Sumber:
Terjemahan dan adaptasi dari :
Gisele Glosser. Tips for New Math Teachers




