Showing posts with label Umum. Show all posts
Showing posts with label Umum. Show all posts

Saturday, 28 September 2013

Postmodern, Postmodernism, Postmodernity

Postmodern dan paham yang lahir karenanya (postmodernism)
Post modernisme secara harafiah dapat diartikan sebagai sebuah masa setelah masa modern, pun dapat diartikan sebagai sebuah zaman yang melahirkan manusia dengan pemikiran yang boleh jadi melawan konsepsi-kosepsi yang dipegang oleh modernisme itu sendiri. Post modernisme menjanjikan sebuah pemahaman akan sebuah dunia baru dengan gejala pemikiran manusia akan perkembangan dunia yang semakin cair dan luwes. Meskipun banyak pemikiran post-modernis melawan pakem-pakem yang dipegang oleh modernis, post modern itu senidiri pun menolaknya. Post modernis mengaku hanya mengkritisi dan mencoba merevisi kesalahan kesalahan modernisme.
Post-modern adalah sebuah ekspansi besar-besaran oleh skeptisisme yang ‘melanda’ masyarakat global terhadap aspek-aspek hidup secara mendasar, hal ni menyangkut banyak aspek, seperti hukum, budaya, seni, arsitektur, musik, desain, jurnalisme, dll. Skeptitisme yang cukup melekat pada pemikiran masyarakat paska modern melahirkan sebuah budaya kritis dan mempertanyakan banyak hal. Cenderung membuar masyarakat berhati –harti dalam bertindak. Menolak sikap pasrah akan aturan aturan dan menuntut akan kebebasan yang sebebas-bebasnya yang kemudian mengacu pada digalakannya liberalisme dan kapitalisme. Postmodernisme menghalalkan berkembangnya pemikiran manusia pada apapun  dalam skala tertentnu sampai ekstrem, bakan melampaui batas norma, nilai, agama, etika, dan hukum. Masyarakat paska modern menuntut pertanggung jawaban akan tindakan yang dilakukan manusia. Pemikiran yang tanpa cela, penuh riset, dan tak terbantahkan dalam melatarbelakangi sebuah perlakuan akan sesuatu pada akirnya akan membuat manusia menghalalkan semua tindakan yang dilakukan. Post modern adalah sebuah zaman ketika manusia mencapai sebuah kemerdekaan dalam berfikir dan mengkritisi tanpa batas, menadai dunia yang kian terbuka dengan manusianya yang kian cair dalam betindak dan berfikir. Sebuah penilaian dan justifikasi pada sesuatu menjadi amat sangat tidak relevan, mengacu pada dibolehkannya setiap pemikiran manusia terhadap hal yang dinilainya dengan catatan pemikiran tersebut dilatarbelakangi oleh sesuatu yang kuat secara mendasar dan mampu membenarkan. Meskipun potmodern menawarkan sebuah revolusi besar-besaran akan kebebasan berfikir, post modern pun merupakan titik tolak kembali diangkatnya humaniora (hal-hal yang berkaitan dengan kemanusiaan, hal yang menjadikan manusia manusia) ditengah gejolak robotisasi manusia yang dipicu oleh kekakuan yang dicetuskan modernisme yang secara hakiki mengalienisasi manusia. Dilihat dari dikembalikannya manusia pada unsur pembentuk dan sifatnya, lahirlah sebuah pemikiran bahwa manusia adalah mahluk yang berfikir, dan dibatasinya ruang berfikir manusia (dengan adanya aturan, regularisasi, dll) adalah seseuatu yang dapat menghilangkan sifat manusia yang paling mendasar itu sendiri. Melahirkan kebebasan berfikir yang telah saya singgung sebelumnya.

Sejarah dan munculnya
Istilah post modern pertama kali dicetuskan oleh sekitar tahun 1870-an di beberapa tempat, salah satunya adalah John Watknis Chapman yang mengemukakan adanya sebuah gaya baru dalam lukisan yang disebut a Postmodern style of painting sebagai sebuah genre luksisan setelah Impresionisme Prancis.
Dalam dunia journalisme J.M. Thompson pada tahun 1914 menyatakan bahwa postmodernisme adalah sebuah perubahan tingkah laku masyarakat yang kian kritis yang diubgkapkannya dalam media The Journal Hibbert
Selanjutnya pada tahun 1917 Rudolf  Pannwitz  menyatakana bahwa postmodernisme adalah sebuah istilah yang menggambarkan budaya masyarakat yang filosofis, mempertanyakan satu dan lain hal, bahkan lebih jauh lagi, tidak hanya mempertanyakan dan mencari jawabannya, namun juga mengkritisinya.
Post-modernisme pun merambah bidang arsitektur, istilah ini digunakan sebagai sebuah gerakan baru dalam perkembangan arsitektur bangungan sebagai bentuk ketidakpuasan akan arsitektur modern, yang dicetuskan dengan hadirnya International Style yang menggembar-gemborkan frasa Less is More, dengan menghilangkan ornamen dan menitikberatkan arsitektur pada segi fungsi, dan meminimalisir setiap bagian yang dirasa kurang efisien dan tidak fungsional.
Dalam bidang seni, post modernisme menghadirkan sebuah penyegaran karena dihilangkannya batasan-batasn yang kaku dalam berkarya dan memberikan keleluasan bagi seniman dalam skala yang amat besar, hingga tercetus frasa Anything Goes yang lekat dengan perkembangan postmodern di bidang seni .keleluasan berkarya ini tidak terbatas hanya pada media yang kemudian menghadirkan banyak media baru yang kadang membingungkan karena pernah dianggap sebagi media yang tabu untuk digunakan sebagai media berkarya seni. Perkembangan dan kebebasan berkarya di bidang seni kemudian dikelompokkan dalam new media art yang disejajarkan dengan media seni konvemsional. Ketidaklaziman penggunaan media yang maraca dilakukan pada era postmodern pertama kali tercetus oleh keradikalan penggunaan media yang dilakukan Duschamp yang kala itu memerkan sebuah kloset di sebuah pameran karya seni. Hal ini kemudian menuai banyak krtik dari masyarakat seni kala itu dan mengantarkan seni rupa ke babak baru dimana eksplorasi media sampai batas yang ekstrim dilazimkan. Uniknya, perkembangan media seni rupa seringkali sampai pada pemikiran yang sangat baru, bahkan mungkin suaru saat karya seni rupa tidak semata-mata terikat akan rupa itu sendiri. Seperti lahirnya sound art dan conceptual art. Praktek seni eksperimental yang seringkali menggunakan media yang sama sekali abstrak pun dikategorikan pada karya seni. Selain pada penggunaan media, paham post modernisme pada seni rupa mengafeksi aspek-aspek kesenirupaan yang lainya, salah satunya mengenai unsur tertinggi dan paling mendasar dalam senirupa, yakni estetika, dikembalikannya seni kepada masyarakat menjadikan seni kembali mengangkat permasalahan sosial dan menganggap keremeh-temehan adalah sesautu yang boleh saja diangkat, fungsi seni pun kembali diperluas sebagai reaksi kritis akan konsep pemurnian seni yang digalakan modern.
Pada akhirnya istilah post-modern dianggap sebagai sebuah zaman yang melahirkan sebuah pemahaman filosofis yang merangkul semua aspek hidup masyarakat global, baik dalam seni, musik, literatur, jurnalisme, manajemen, bisnis, dan aspek lainnya, yang merespon keras cakupan luas imperialisme, universalisme, dan sekulerisme dari zaman modern beserta pahamnya. Post modernisme beruapaya untuk menajadi titik tengah antara dikotomi dunia yang melingkupinya secara holistik. Antara arus global dan lokal, tradisi dan modern, antara fungsi sekulerisme dan spiritualisme, keseragaman dan kemajemukan, dll. Titik tengah dan juga area yang paling abu-abu ini dianggap sebagai bentuk sikap yang (mungkin saja) sekarang ini paling tepat untuk menyikapi dunia yang amat kompleks dan majemuk, sekaligus terintegrasi satu sama lain. Post modern pun pada akhirnya merupakan salah satu bagian dari budaya kontemporer pada masyarakat post-industri kala ini.

Post-modernitas
Post modernitas adalah keadaan masyarakat ketika menerima dan mempraktikan paham-paham post modernis. Biasanya indikasi terbesar dapat terlihat dari aspek ekonomi, budaya, dan kondisi masyarakat yang biasnya dalam ruang lingkup sebuah negara (riset mengenai ekonomi, budaya, dan kondisi kemasyarakatan akan lebih jelas ketika dilakuan per negara) ketika ‘mengamini dan mengamalkan’ post modern itu sendiri. Postmodernitas pun dapat diartikan sebagai dampak yang terjadi pada masyarakat ketika ditinggalkannya paham-paham kaku yang ditawarkan di zaman modern menjadi masyarakat yang filosofis dan kritis.
Pada era modernisme, masyarakat diarahkan untuk menerima konsep-konsep rasional dan realstis demi mencapai kemajuan di berbagai bidang. Namun sayangnya, ketika rasio dan realita dipegang sebagai acuan utama dalam kebudayan ,muncul indikasi akan hilangnya rasa-rasa kemanusian (humaniora) yang akan mengasingkan manusia dari manusianya. Terjadi sebuah paradoks ketika manusia mencoba untuk mencoba meraih dan menambah  kemampan rasio dan kecakapannya dalam menanggapi realitas namun harus menghilangkan sifat dasar dari manusia. Dan postmodernisme hadir sebagai solusi untuk kembali memanusiakan manuisa. Sikap modernisme yang membawa paham sekulirsme, universalisme, pemerataan, dianggap sebagi sebuah paham yang tidak cocok ddengan sifat alamiah manusia yang seyogyanya berbeda. Modernisme sringkali dianggap salah satu gerakan evolusi peradaban manusia yang salah, dan post-modernism lebih berkonotasi positif karena memberikan keleluasan bagi masyarakat untuk menentukan tindakan  namun, tentu saja, apa yang dianggap salah pada moderninsme tidak bisa dihilangkan begitu saja. Terbukti bahwa universalisme tetap saja dipegang oleh masyarakt dunia dan tidak serta kembali kepada kearifan lokal.
Salah satu dampak yang cukup menarik dari hadirnya postmodernitas adalah relativisme yang kian rumit untuk dimengerti. Menolak konsep utopia ang ditawarkan oleh modernisme. Paham post modern tentu saja dirasa lebih dalam dan rinci dalam memahami sesutau. Sebut saja dalam estetika, modernisme berpegang teguh pada estetika yang menjadikan keindahan sebagai acuan utama, namun salah satu pelukis ternama, Van Gogh mencoba untuk sedikit mendobrak utopiasme modernisme dengan menampilkan kesenduan dalam karyanya, sehingga cakupan estetika pun tidak terbatas pada indah secara harifah. Kelenturan berfikir ini pun menrambah aspek kemasyrakatan lainnya, ketika nilai benar dan salah dan jtaam dikotomi lainnya kian menjadi abu-abu, dan memang, post modernisme itu sendiri berada pada gray area yang mencoba menangahi keduanya. Bahkan lebih jauh lagi, postmoderniseme mampu melazimkan sesuatu yang tidak lazim, atau bahkan menyimpang. Kembali postmodernisme berpegang pada kelenturan meraka yang tidak menjustifikasi seperti yang dilakukan modernisme, namun lebih mengkritisi dan berada di tengah-tengah dikotomi.
Salah satu dampak postmodernitas yang terjadi secara global dan menyeluruh dan menarik untuk dikritisi adalah masalah ekonomi global. Modernisme yang menjanjinkan kemajuan peradaban dunia dengan digalakannya perdaganagn bebas (karena konsepsi univerasalisme yang mereka pegang) lewat paham pemilik modal dan kapitalisme pun pada akhirnya hanya kaan menguntungkan pihak-pihak pemilik modal yang notabene hanya akan mensejahterakan segelintir pihak. Tidak mensejahteraan masyarakat secara universal, hal ini kemudian dianggap sebagai salah satu kesalahan modernisme yang cukup signifikan. Yang kemudian dilawan oleh post-modernisme. Konsep kapitalisme sudah barang tentu menuai banyak kritisi pedas dari para pengamat budaya. Terlebih karena kapitaslisme selalu berupaya untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya dengan menekan biaya produksi sehingga efisisni modal dapat dilakukan, seringkali dalam prakteknya, kapitalisme menghapus nilai-nilai kemanusiaan, dan menenggelamkan manusia dalam keserakahan yang akan menghilangkan sifat-sifat manusianya. Kembali, mengalienasi manusia.
Pada perkembangannya, manusia merasa angin kapitalisme yang kian membutakan manusia dapat berdampak buruk pada masyrakat global dalam skala yang cukup bear dan jangka yang panjang, maka kapitalisme itu pun kemudian dilawan oleh lahirnya paham baru yag disebut post-modernisme yang menwarkan kembali ditiliknya rasa-rasa kemanusiaan ditengah dunia yang kain munafik dan selalu ingin menang sendiri. Timbul suatu paham bahwa kapitalisme dapat menanamkan konsumerisme sebagai cikal bakal penghilangan kemanusiaan. Sikap selektif fan kritis akan menghadapi arus ekonomi pasar bebas adalah solusi menurut post-modernisme. Menghimbau manusianya untuk kembali melihat sekitar dan peduli, menawarkan sebuah dunia baru yang sedikit lebih pengertian. Seidkit menghadirkan paham sosialis yang dahulu selalu dibantah sebagai penyeimbang arus pasar bebas yang kian berubah dah menjauhi manusia.

Kritik terhadap post-modern
Meskipun postmodernisme nampak menjanjikan dan tanpa cela, terdapat beberapa celah yang bisa menjatuhkan paham ini. Salah satunya adalah kerancuan dan ketidakpastian yang melekat pada paham ini sebagai konsekuensi dari melenturnya pemikiran manusia. Beberapa pihak masih menyangkal bahwa postmodernisme, meski memberikan solusi tengah, dinilai tidak konsisten dalam memperlakukan sesuatu. Bersikap apatis dan hanya mengkritisi, kemudian lepas tangan dan merasa aman karena tidak ingin ikut campur menyelesaikan masalah. Lebih jauh lagi, dikhawatirkan paham ini akan melahirkan medioker yang hanya ikut-ikutan mengkritisi tanpa riset lebih dalam dan hipokrit yang hanya bisa mengkritisi tanpa bertindak, atau bahkan tidak mengamini dengan perlakuan terhadap apa yang telah dikritisi.
Selain itu, post modernisme dianggap tidak konsisten, meskipun post-modernisme adalah sebuah idealisme akan menyikapi hegemoni pegrerakan dunia, post modernisme itu sendiri dianggap berpegang pada sesauatu yang tidak ingin mengukuhkan pijaknnya. Paradoks yang cukup membingungkan pihak-pihak yang mungkin memerlukan kejelasan dalam bertindak. Seringkali sikap apatis dari postmodernis ditentang oleh para penganut paham modern, karena meskipun modernisme ditentang dengan keras, tetap saja menyisakan jejak atas konsepsinya mengani dunia. Tetap saja pasar bebas dan universalisme dijunjung oleh dunia ini meski jelas-jelas ditentang.
Post modernisme pun menjadi amat sangat membingungkan. Amat abu-abu. Sangat relatif dan tidak mengukuhkan diri. Berkesan selalu takut dalam menentukan pilihan dan hanya akan mengkritisi, melahirkan manusia yang pandai mengkritisi namun ragu dalam memnentukan sikap. Hanya akan mengadirkan banyak pengamat hebat, tapi ragu dalam mengambil tindakan.

Pengaruh postmodernisme pada seni rupa
Telah sedikit saya ungkap sebelumnya, postmodernisme mengafeksi aspek-aspek kehidupan scara general dan holistik, pun seni dan estetika. Pada masa modern, seni dicoba untuk dimurnikan dari distorsi-distorsi yang mungkin terjadi karena adanya implementasi dari aspek-aspek yang dahulu melebur dengan seni. Seperti tradisi dan kemasyarakatan.  Seni kala itu (masa modern) meminjam konsepsi konsepi modernisme, sepeti universalisme seni, sekulerisme seni, pemurnian dan pengkerucutan seni (klasifikasi yang jelas),  dan pengesklusidan seni. berangkat dari pemikiran tersebut perkembangn karya seni menjadi amat kaku. Seni amat ditinggikan dan diperuntukkan bagi kaum ningrat saja. Seni dimurnikan dan terbatas hanya pada masalah estetis saja (pada seni abstrak), tabu dalam membicarakan hal-hal yang bersifat remeh-temeh, dipisahkan dari masyarakat, menunjung orisinalitas, dan dijauhkan dari tradisi. Semua perlakuan diatas merupakan hasil dari pemikiran modernisme yang amat berpegang pada rasionalitas dan realitas, sehingga membatasi ruang berkarya. Seni terbatas pada media seni konvensional yang tinggi orisinilalitas dan amat eksklusif. Sehingga seni lukis dan patunglah yang medominasi penggunaan media pada seni rupa modern.   Sedangkan seni grafis dan keramik masih berkonotasi rakyat, tidak ningrat, dianggap tidak seeksklusif media lukis dan patung, namun seiring perkembangannya, kedua media tersebut dipandang patut disejajarkan dengan media seni sebelumnya, seperti yang dilakukan Andy Warhol, yang merusak  tatanan media seni tinggi dan seni rendah dengan memadukan keduanya, seperti karya silkscreenya (serigrafi kala itu diangap media rakyat) pada sebuah kanvas (yang biasa digunakan untuk melukis yang berkonotasi seni tinggi).
Dikemudian hari, paham modernisme yang terdapat pada senirupa mendapat resisitensi dari kekritisan pemikiran publik seni. pun mengungkap bahwa terjadi kesalahan pada modernisme seni ini. Hal ini juga dipengaruhi perkembangan pola pikir masyarakat global yang memasuki gerbang pemikiran filosofis yang dibawa postmodernisme. Bentuk resistensi ini pun dikenal dengan postmodernisme seni yang membawa angin segar dalam dunia seni rupa. Dengan bertambah lenturnya pemikiran publik akan seni, penggunaan media pun menjadi amat tak terbatas bahkan melampaui norma-norma etis. Post modernisme berusaha untuk meminjam pemikiran masa lalu mengenai seni, menitilkberatkan pada meleburnya seni dengan masyarakat dan tradisi. Seni diupayakan untuk kembali melebur dengan keduanya. Diangkatnya kembali isu-isu sosial dalam karya seni tentunya menambah kaya ruang lingkup batasan karya. Seni kembali berfungsi sosial dan pribadi. Seniman kembali diperbolehkan untuk menyisipkan muatan-muatan pribadi dalam karyanya. Selain itu, seni pun dianggap dapat menjadi media yang digunakan untuk mengkritisi masalah sosial yang kian rumit. Diangkatnya kembali hal-hal yang tidak general (umum) dan berskala kecil dan remeh temeh pada karya seni pun tak disia-siakan oleh para seniman untuk menuangkannya pada karya. universalisme seni pun diporak-poranda kan oleh dihalalkannya pengangkatan isu lokal pada karya seni , penanaman kearifan lokal pada karya seni merupakan dampak dari diperbolehkannya pengkaryaan tradisi yang tentu saja bersifat sangat lokal pada karya seni.
Seni pada masa post-modern kian cair dan semakin luas cakupannya, menjajal sebuah babak baru dengan tawaran kebebasan dan kemerdekaan berkarya secara menyeluruh, namun tetap saja, konsekuensi dari konsepsi dasar postmodernisme, yakni kritisisme dan budaya filosofis, menuntut riset yang kian dalam dan meyelurub dalam berkarya, sehingga karya seni dewasa ini tidak terbatas pada pemasalahan visual dan estetis saja, namun juga mengenai pertanggungjawaban gagasan yang dituangkan seniman dalam karyanya. Bahakan tak jarang, pertanggungjawaban karya lebih dipentingkan dan diutamakan. Terutama pada karya-karya seni konseptual dan eksperimental, pertanggungjawaban karya adalah hal yang paling ditamakan. Ini merupakan cerminan dari budaya filosofis dan kritis yang tadi saya utarakan.
Meskipun banyak nilai positif yang bisa dipetik dari seni postmodernisme, tetap timbul sebuah permasalahan yang cukup pelik ketika eksistensi mengenai ruang lingkup postmodernisme itu sendiri. Ketika paham ini mencoba untuk mengembalikan seni ke koridor masa lalu tapi tetap membawa pengaruh-pengaruh modernisme yang amat bertentangan dengan apa yang hendak dikembalikan. Meskipun begitu, banyak pula pemikir mengemukakan bahwa postmodernisme memang berupaya, dan mungkin baru sampai pada tahap ‘meminjam’ pemikiran-pemikiran masa lalu yag dianggap lebih baik. Belum mampu atau bahkan mungkin tidak bisa mengembalikan seni pada konespsi-konsepsi terdahulu. hal ini tercermin dari tetap digalakannya pengeksklusifan seni dan adanya profesi seniman yang notabene adalah produk modernisme. Ketika seni melebur dengan masyarakat, profesi seniman pun melebur dengannya, seniman hanyalah bagian dari masyarakat yang seyogyanya tidak menggembar-gemborkan eksistensinya, dan kemudian berujung pada kepemilikan karya seni yang seharusnya dimiliki publik, mengacu pada anonimisme karya seni pada koridor masa lalu.

Thursday, 19 September 2013

Guru Profesional

Sebagian orang berpendapat, bahwa mengajar adalah proses penyampaian atau mentransfer ilmu dari seorang pendidik kepada peserta didik. Tetapi tampaknya pendapat ini harus jauh-jauh ditinggalkan, karena sudah tidak sesuai dengan perkembangan jaman. Kini mengajar harus kita maknai sebagai sebuah kegiatan yang komplek, yaitu penggunaan secara integratif sejumlah keterampilan untuk menyampaikan ilmu. Pengintegrasian keterampilan-keterampilan yang dimaksud di sini harus dilandasi dengan seperangkat teori dan diarahkan oleh suatu pengetahuan/wawasan. Sedangkan penearapannya akan menjadi unik bila dipengaruhi oleh semua komponen belajar mengajar. Komponen yang dimaksud adalah tujuan yang hendak digapai, ilmu yang ingin disampaikan, seubjek didik, fasilitas dan lingkungan belajar, dan yang tidak kalah penting adalah keterampilan, kebiasaan dan wawasan guru tentang dunia pendidikan dan misinya sebagai pendidik.


Jika mengajar dipahami sebagai kegiatan mentransfer ilmu kepada siswa, maka mengajar itu sendiri hanya akan terbatas pada penyampaian ilmu itu saja. Guru di pihak pertama menyampaiakan ilmu dan siswa di pihak kedua akan menerima secara pasif. Prosesnya pun bisa diketahui, pembelajaran akan berjalan secara membosankan. Karena yang mendominasi pembelajaran adalah guru, sedangkan siswa hanya sebagai penerima.

Namun, apabila mengajar dimaknai sebagai segala upaya yang dilakukan dengan sengaja untuk menciptakan proses belajara pada siswa dan mencapai tujuan yang telah dirumuskan, maka jelas bahwa yang menjadi sasaran akhir dari proses pengajaran itu ialah siswa belajar. Artinya dalam hal ini segala upaya apapun dapat dilakukan selagi bisa dipertanggungjawabkan, dan bisa menghantarkan siswa menuju pencapaian tujuan belajar yang telah dicanangkan, artinya siswa belajar secara aktif, dan yang mendominasi dikelas adalah siswa.

Kesimpulannya, hakekat menjajar itu merupakan usaha guru menciptakan dan mendesain proses belajar pada siswa. Jadi yang terpenting dalam belajar mengajar itu bukanlah bahan yang disampaikan oleh guru, akan tetapi proses siswa dalam mempelajari bahan tersebut (guru lebih menghargai proses dari pada hasil). Sekali lagi peranan yang menonjol dalam belajar mengajar ada pada siswa, ini bukan berarti bahwa peranan guru tersisihkan, hanya diubah saja.

Jadi, guru yang profesional adalah guru yang dapat melakukan tugas mengajarnya dengan baik melalui keterampilan-keterampilan khusus agar tercipta sebuah pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan meyenangkan.

Wednesday, 20 March 2013

Inilah 5 Kesamaan Dari Jokowi dan Obama



Empat tahun lalu, Barack Obama menghipnotis publik Indonesia. Jelang Pemilihan Presiden AS, Indonesia dilanda Obamamania. Di SD Menteng tempat Obama pernah menimba ilmu, digelar nonton bareng pemilihan Presiden AS yang mempertarungkan Obama dengan John McCain. Obama menang dan gegap gempita ikut merasuki Indonesia.

Saat ini, Obama akan kembali bertarung dalam Pilpres AS melawan Mitt Romney. Polling menunjukkan Obama berimbang dengan lawannya Mitt Romney. Namun, Obamamania seperti redup di Indonesia. Kali ini, publik lebih terkesima dengan pesona Joko Widodo, atau Jokowi, Gubernur DKI Jakarta yang baru mengalahkan Fauzi Bowo dalam Pilgub DKI. Berikut 5 kemiripan Obama dan Jokowi.

1. Karisma
Dalam Kamus besar Bahasa Indonesia, karisma dijelaskan sebagai keadaan atau bakat yang dihubungkan dengan kemampuan yang luar biasa dalam hal kepemimpinan seseorang untuk membangkitkan pemujaan dan rasa kagum dari masyarakat terhadap dirinya. Baik Jokowi dan Obama memiliki karisma yang mampu mendulang kepercayaan publik.

Baik Jokowi dan Barack Obama sama-sama memiliki karisma yang mampu menarik perhatian pemilih. Saat pemilihan wali kota Solo, Jokowi memang fenomenal. Dia menduduki kursi wali kota Solo sejak 2005 setelah memenangkan kontestasi berduet dengan FX Hadi Rudyatmo. Dari persentase suara sah, Jokowi-Rudy mendapat 36,62 persen suara.Sebagai pasangan incumbent, Jokowi-Rudy kembali maju kontestasi pada 2010. Keduanya menang mutlak dengan perolehan sekitar 90 persen suara. Dari Solo, Jokowi bertarung di Jakarta. Karisma Jokowi mampu menaklukkan gubernur petahana Fauzi Bowo. Dalam dua putaran, semuanya dimenangkan oleh Jokowi.

Di Amerika Serikat, Barack Obama juga punya karisma yang mampu mendudukkannya di Gedung Putih empat tahun lalu. Sebelum mengalahkan John McCain, dalam nominasi capres Demokrat, Obama menaklukkan Hillary Clinton. Pada inagurasi sebagai Presiden AS 20 Januari 2009, sebanyak 1,8 juta orang datang ke National Mall di Washington dalam suhu dingin. Obama menjadi presiden dengan tingkat kepuasan mencapai 68 persen.

2. Suka Musik Rock
Gubernur DKI Joko Widodo dikenal menyukai musik. Namun, aliran musik yang disukai Jokowi bukan musik yang umumnya digemari para pejabat. Sebab, Jokowi menyukai musik metal.

"Saya enggak bisa nyanyi, tapi saya suka musik metal, seperti Led Zeppelin," kata Jokowi saat ditanya aliran musik yang disukainya oleh wartawan di Monas, Jakarta, Minggu (28/10). Jokowi memang dikenal menyukai musik rock. Musik itu disukainya sejak ia masih ABG. Bahkan, salah satu yang dibawanya ke Jakarta saat ia terpilih menjadi gubernur DKI adalah kaset rock kesayangannya.

"Saya cuma bawa baju dan kaset rock," kata Jokowi. Jokowi mengungkapkan mengapa dia membawa kaset kesayangannya itu. Sebab, di Jakarta semua sudah ada. Jadi yang dibawa hanya kaset koleksinya. "Ada 30 album kaset rock," ujar Jokowi.

Sementara Obama mengaku juga punya kesukaan pada musik rock. Belum lama ini Obama ditanya apa daftar lagu dalam iPod-nya, Obama menyebut nama Rolling Stones dan Bob Dylan. Sementara Bruce Springsteen, diketahui berkampanye untuk Obama.

3. Janjikan Perubahan
Jokowi dan Basuki Tjahaja Purnama mengusung misi perubahan untuk Jakarta. Tagline kampanye keduanya pada Pilgub Jakarta baru lalu adalah Jakarta Baru. Artinya, Jokowi mengajak warga Jakarta untuk berubah dibandingkan dengan situasi pada kepemimpinan sebelumnya. Slogan Jakarta Baru mampu menarik perhatian pemilih.

Dalam awal pernyataannya setelah menang, Jokowi mengucapkan terima kasih kepada seluruh warga Jakarta atas terselenggaranya Pilgub DKI yang tertib, lancar, jujur, bersih, aman, adil dan tidak ada masalah sekecil apapun. "Setelah ini kita semua ingin nantinya bergerak bersama-sama bersatu tidak terpecah-pecah dalam membangun kota Jakarta. Untuk Jakarta baru yang lebih baik," katanya.

Sama halnya dengan Jokowi, Obama juga menawarkan perubahan dibandingkan kepemimpinan George W Bush. Slogan kampanye Obama yang sangat populer adalah "Hope and change" alias harapan untuk sebuah perubahan.

4. Suka Bakso
Gaya kepemimpinan Gubernur DKI Joko Widodo mengundang decak kagum. Kesan merakyat saat kampanye, terus dilakukan ketika sudah terpilih. Jokowi pun semakin sering turun langsung menemui warga.

Salah satu momen yang paling diingat adalah ketika Jokowi bertemu warga di kawasan Kramat Jaya, Jakarta Pusat. Kala itu Jokowi mengajak warga menyantap bakso. Dia pun berjanji akan melindungi pedagang bakso serta masyarakat yang mengkonsumsi bakso.

Ternyata bakso memiliki kenangan khusus dibenak Presiden AS Barack Obama. Ketika menghadiri jamuan makan malam di Istana Merdeka, Obama disuguhkan makanan berbentuk bulat tersebut.

"And thanks for bakso, nasi goreng, emping, and kerupuk, semuanya enak," kata Obama dalam bahasa Indonesia kala itu. Obama yang pernah tinggal selama empat tahun di Indonesia ternyata memang menggemari bakso dan nasi goreng.

5. Postur Langsing Dengan Kemeja Putih Digulung
Apa kesamaan Presiden AS Barack Obama dengan Gubernur DKI Joko Widodo? Memang secara kebangsaan dan silsilah jauh berbeda. Namun jika diperhatikan, secara fisik keduanya sama-sama berpostur langsing, tetapi memang Obama jauh lebih tinggi.

Selain itu, dalam berpenampilan antara Obama dan Jokowi sama-sama doyan berpenampilan casual. Sering kali saat tampil di hadapan publik Obama dan Jokowi mengenakan kemeja putih lengan panjang digulung.

Thursday, 17 January 2013

Pendidikan Berbasis Kultur

Pendidikan indonesia terus mencari bentuk baru guna mensinergikan dengan tuntutan zaman. Tak ayal muncul berbagai formulasi kurikulum setiap periodenya. Tercatat kurikulum pendidikan di Indonesia telah mengalami delapan kali reformulasi. Pasca kemerdekaan kurikulum pertama yang diterapkan adalah Rencana Pelajaran 1947. Kemudian Rencana Pelajaran Terurai tahun 1952, Kurikulum 1968, kurikulum 1975, kurikulum CBSA 1984, Kurikulum 1994 dan suplemen kurikulum 1999, Kurikulum berbasis kompetensi, dan Kurikulum tingkat satuan pelajaran 2006.

Reformulasi kurikulum ini dinilai banyak pihak sarat akan nuansa politis, meskipun dengan dalih memajukan pendidikan Indonesia.Dalih yang kerap kali digunakan adalah perubahan tersebut merupakan konsekuensi logis dari terjadinya perubahan sistem politik, sosial budaya, ekonomi, dan iptek dalam masyarakat berbangsa dan bernegara. Sebab, kurikulum sebagai seperangkat rencana pendidikan perlu dikembangkan secara dinamis sesuai dengan tuntutan dan perubahan yang terjadi di masyarakat.

Sayangnya dari sekian banyak perubahan kurikulum tersebut aspek sosio-kultur kurang mendapat perhatian. Selama ini kurikulum lebih bersifat equality (pukul rata) di seluruh lembaga pendidikan di pelbagai penjuru Indonesia. Artinya, kurikulum sekolah-sekolah di perkotaan, disamakan dengan dengan kurikulum sekolah di pedesaan, kurikulum sekolah di Jakarta sama dengan kurikulum di daerah pedalaman Kalimantan. Padahal sudah barang tentu kebutuhan masing-masing berbeda, dan itulah yang seharusnya dijawab oleh pendidikan.

Orientasi pendidikan yang utama adalah menjawab kebutuhan masyarakat. Sebagaimana termaktub dalam UU No. 20 tahun 2003, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Nampak jelas titik point orientasi pendidikan di atas, adalah mengembangkan potensi individu untuk memenuhi kebutuhan diri, masyarakat, bangsa dan Negara.  Equality kurikulum pendidikan menjadikan pendidikan absurd, tidak membekas dibenak peserta didik karena terlalu utopis alias tidak dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Sungguh ironis melihat kondisi real pendidikan seperti ini.

Pendidikan Berbasis Kultur

Pendidikan harus selalu  berdialekita dengan keadaan sosio-kultur. Tanpa demikian, pendidikan menjadi alat untuk mencerabut masyarakat dari kultur yang selama ini diwarisinya. Paulo freire (1976;214) menegaskan, pendidikan seperti ini melanggengkan status quo penindasan dan kebodohan. Padahal, menurutnya, pendidikan seharusnya menjadi alat untuk membebaskan manusia dari segala bentuk penindasan dan ketertindasan yang dialami masyarakat.

Firdaus M. Yunus (2004) mengatakan pendidikan harus mampu menjawab dan bertanggung jawab setiap masalah dan memenuhi kebutuhan masyarakat. Hal ini perlu dilakukan agar pendidikan memiliki basis sosio-kultur dan tidak absurd. Artinya, pendidikan dimanapun dan kapanpun tidak akan pernah berdiri bebas tanpa berkaitan secara dialektis dengan lingkungan dan sistem sosial dimana pendidikan diselenggarakan.

Apalagi saat ini sudah diberlakukan otonomi daerah, yang di dalamnya juga mencakup bidang pendidikan. Tentu aspek pendidikan harus dibuat sedemikian rupa agar bersinergi dengan kebutuhan dasar masyarakat. Singkatnya , meminjam paparan Barnadib (1996), sejumlah perangkat pendidikan  (kurikulum) perlu diperuntukkan sesuai dengan kebutuhan sosio-kultur masyarakat.

Pendidikan berbasis kultur pun menyeruak untuk menjawab tuntutan pendidikan di atas. Pendidikan semacam ini mensyaratkan orientasi utama dari urgensi pendidikan adalah menjawab kebutuhan masyarakat tempat pendidikan diselenggarakan. Pendidikan di perkotaan harus berbeda dengan pendidikan di pedesaan.

Potensi alam indonesia sangat kaya raya dan melimpah ruah namun mengapa rakyat pribumi kurang mampu mengelolanya. Contoh kecil Freeport di Papua, Exon Mobile di Cepu, namun justru bangsa asing-lah yang menikmati kekayaan ini. Ketika ditelisik lebih dalam, akar muaranya adalah pendidikan kurang menyentuh aspek lingkungan sekitar (sosio-kultur).

Pendidikan hanya menyuguhkan materi-materi yang kurang relevan ketika diaplikasikan bagi kehidupan steakholders. Walhasil, pendidikan pun menjadi bias dan tak berbekas. Semestinya Indonesia mampu menghidupi Negara dari sumber daya alam, bahkan menjadi Negara pengekspor komoditas terbesar. Namun fakta berkata sebaliknya, indonesia malah aktif mengimpor dan menjadi Negara terbesar pengekspor TKI.

Seharusnya potensi alam inilah yang harus dijawab melalui pendidikan penduduk sekitar. Sehingga manfaat pendidikan bagi kehidupan pun nyata. Pun dengan masyarakat agraris, pendidikan harus mampu mengakomodir pertanian, misal dengan menciptakan bibit unggul ataupun menemukan terobosan baru lainnya. Begitulah seterusnya, masyarakat maritim, perindustrian, harus dioptimalkan potensinya secara inovatif melalui lokus pendidikan.

Dengan demikian terwujud fungsi masing-masing Individu di Indonesia. Satu sama lain saling membutuhkan dan menguntungkan (mutual). Potensi yang dimiliki setiap kultur pun dapat dimanfaatkan secara optimal dan fungsional. Walhasil pendidikan pun memperoleh porsi aslinya sebagai wahana pemenuhan kebutuhan masyarakat sesuai yang termaktub di UU. Semoga!!!

Waspada Penyakit Guru

Masih ditemukan guru kita yang terjangkit penyakit di awal tahun ajaran baru ini, seperti tipus (tidak punya selera), asma (asal masuk kelas), asam urat (asal sampaikan materi urutan kurang akurat), diare (di kelas anak diremehkan), hipertensi (hiruk persoalan tentang sertifikasi), dan lain-lain. Berderet penyakit kronis yang meniscayakan pendidikan kita akan terjerumus dalam lubang kegagalan ini harus segera diobati apabila tidak menginginkan pendidikan kita kian bertambah meringsek. UU No 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen (UUGD) telah dilantunkan pemerintah sebagai alternatif supaya para pengajar lebih kompeten. Guru diharapkan mampu mengelola pembelajaran, meliputi pemahaman terhadap peserta didik, perancangan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, serta pengembangan peserta didik untuk mengkualifikasikan berbagai potensi yang dimiliki.
Pada kenyataannya, program pemerintah atas guru dan dosen tersebut masih jauh dari asa. Sebagaimana diberitakan Kemendiknas, hingga Juli 2011 diperkirakan ada lima ratus ribu guru per hari malas mengajar. Terlepas dari keakuratan data, sesungguhnya ini merupakan cermin buram wajah pendidikan kita. Bukan kecil angka tersebut. Sebab, lima ratus ribu itu sama dengan jumlah guru yang ada di Malaysia dan Thailand.
Tidak sedikit guru menanggapi secara praktis adanya sertifikasi guru, yakni sekadar mendapatkan tunjangan lebih. Guru rela meninggalkan tugas utama (mengajar) demi mengikuti aneka workshop. Bukan rahasia umum manakala guru malah tertidur atau ngobrol di saat pelatihan berlangsung, lantas menjinjing sertifikat ketika acara usai. Lebih parah lagi, sebagian teman seprofesi justru melakukan kecurangan dengan jalan meminjam sertifikat teman untuk difoto kopi. Tentunya, setelah mengganti nama yang tertera.
Penyelenggaraan pelatihan jadi muspro. Seperti sediakala, guru mengajar sekenanya, asal menyampaikan materi. Tidak ditemukan variasi dalam penggunaan metode pembelajaran. Ceramah, termasuk metode andalan. Pada takaran ini, siswa dianggap tidak tahu apa-apa, sementara guru maha kuasa. Siswa ibarat tong sampah yang siap menerima segala yang keluar dari guru.
Perlu diketahui bahwa pembelajaran bukan seperti sedang  menonton pertunjukan film; siswa tidak sekadar duduk di kelas untuk mendengarkan penjelasan guru, menghafal paket materi, lantas menjawab pertanyaan guru. Pembelajaran adalah proses pendewasaan dengan cara mengasah dua sisi terpenting siswa: kognitif dan afektif. Siswa harusnya berbicara tentang apa yang mereka pelajari dan dapat menuliskannya, mengaitkan dengan pengalaman masa lalu, serta menerapkannya dalam  kehidupan sehari-hari. Siswa menjadikan apa yang dipelajari sebagai bagian dari dirinya sendiri.
Oleh sebab itu, siapa memilih profesi guru, seyogyanya bisa terbuka dan mau membuka wawasan siswa. Setidaknya guru mengenali potensi peserta didiknya. Menurut Howard Gandner, kecerdasan siswa yang wajib mendapat perhatian guru, antara lain: linguistik, logis matematis, spasial visual, musik, interpersonal, intrapersonal, kinestetis, dan naturalis.
Guru juga disarankan mengetahui tipe belajar siswa yang tentunya berbeda antara satu dengan lainnya: ada visual, auditif, dan kinestetik. Kecenderungan belajar siswa ini penting dimengerti agar metode pembelajaran yang diterapkan bisa tepat, sehingga materi pelajaran mudah diserap. Adapun cara menentukan tipe belajar apa yang ada di masing-masing siswa maka memerlukan eksperimen, pengamatan, dan penelitian mendalam oleh guru.
Secara sederhana, guru ideal akan menunjukkan keterbukaan dalam perencanaan mengajar dan kegiatan belajar mengajar, di samping juga mempertimbangkan berbagai cara menyampaikan isi pelajaran kepada siswa. Guru tidak hanya terpaku pada satu atau dua metode mengajar tanpa mempertimbangkan kesesuaiannya dengan materi pelajaran serta potensi siswa. Dalam menciptakan kegiatan belajar mengajar yang menarik maka guru akan mencoba menyelingi dengan humor sampai akhirnya semua siswa merasakan jikalau materi yang diberikan guru itu mudah.
Inilah sesungguhnya yang diperlukan dalam suatu proses pembelajaran. Metode pembelajaran yang baik seharusnya selaras dengan tujuan kurikulum. Undang-Undang Sisdiknas pasal 3 nomor 20 tahun 2003 menyatakan bahwa setiap pembelajaran harusnya dapat mengembangkan potensi peserta didik secara holistik. Bukan hanya mengembangkan aspek kognitif atau akademik saja, tetapi juga harus mampu membentuk manusia utuh (whole person) yang cakap dalam menghadapi dunia yang penuh tantangan, serta mempunyai kesadaran spiritual bahwa dirinya adalah bagian dari keseluruhan (the person within a whole).
“Betapa cantiknya sebuah proses belajar dalam sebuah kelas apabila guru memandang semua siswanya pandai dan cerdas dan para siswanya merasakan semua pelajaran yang diajarkan mudah dan menarik. Kelas tersebut akan hidup. Keluar dari kelas tersebut, semua siswa mendapat pengalaman pertama yang luar biasa dan tak akan pernah lupa seumur hidup. Apabila kelas seperti itu terjadi pada jutaan kelas di sekolah-sekolah di Indonesia , pasti negara ini akan menjadi negara maju yang diperhitungkan oleh dunia,” kata Munif Chatib, seorang praktisi pendidikan.
Kiranya, menjadi kebutuhan setiap guru untuk selalu berusaha memahami beberapa penyakit guru sebagaimana di atas yang bisa datang sewaktu-waktu. Banyak membaca buku sebagai inspirasi untuk dapat menyembuhkan berbagai penyakit kronis. Hingga pada akhirnya, jalannya proses pencapaian tujuan pendidikan tidak terganggu. Selamat mencoba menjadi guru yang disenangi siswa!

Guru yang Baik dan Reformasi Sistem Pembelajaran di Kelas

Semasa sekolah, tentu kita pernah diajarkan tentang semboyan Ki Hajar Dewantara bukan? Mungkin dari sebagian dari kita pun sudah lupa semboyan tersebut atau ada pula yang masih ingat semboyan Ki Hajar Dewantara yaitu Tut Wuri Handayani (dari belakang seorang guru harus bisa memberikan dorongan dan arahan), ing madya mangun karsa (di tengah atau di antara murid, guru harus menciptakan prakarsa dan ide), dan ing ngarsa sung tulada (di depan, seorang pendidik harus memberi teladan atau contoh tindakan baik). Semboyan ini masih tetap dipakai dalam dunia pendidikan kita. Ketiga semboyan ini, mengambarkan bahwa guru atau pendidik diasosiasikan sebagai orang yang memiliki tugas mulia mengabdi kepada bangsa dalam mencerdaskan masyarakat.

Dalam dunia pendidikan, seorang guru mempunyai peranan penting dalam suatu negara. Di Indonesia sendiri guru dikenal dengan julukan sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Begitu pula profesi guru mendapat perhatian lebih yaitu dengan dengan adanya undang-undang yang mengatur tentang profesi keguruan. ‘Dalam Undang-Undang Guru dan Dosen (UUGD) pasal 16 disebutkan bahwa guru yang memiliki sertifikat pendidik, berhak mendapatkan insentif yang berupa tunjangan profesi. Besar insentif tunjangan profesi yang dijanjikan oleh UUGD adalah sebesar satu kali gaji pokok untuk setiap bulannya. Peraturan yang dibuat pemerintah ini bukan tanpa alasan. Pemerintah dengan kebijakan mengenai guru bertujuan untuk memperbaiki kualitas guru karena selama ini kualitas guru dipandang masih rendah.

‘Keterpurukan mutu pendidikan di Indonesia juga dinyatakan oleh United Nation Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO)-Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa yang mengurus bidang pendidikan. Menurut Badan PBB itu, peringkat Indonesia dalam bidang pendidikan pada tahun 2007 adalah 62 di antara 130 negara di dunia. Education development index (EDI) Indonesia adalah 0.935, di bawah Malaysia (0.945) dan Brunei Darussalam (0.965).

Rendahnya mutu pendidikan di Indonesia juga tercermin dari daya saing di tingkat internasional. Daya saing Indonesia menurut Wordl Economic Forum, 2007-2008, berada di level 54 dari 131 negara. Jauh di bawah peringkat daya saing sesama negara ASEAN seperti Malaysia yang berada di urutan ke-21 dan Singapura pada urutan ke-7. Salah satu penyebab rendahnya mutu pendidikan di Indonesia adalah komponen mutu guru. Rendahnya profesionalitas guru di Indonesia dapat dilihat dari kelayakan guru mengajar’. [1]

Kita semua sepakat bahwa kualitas guru sangat menentukan mutu pendidikan kita. Tanpa guru yang profesional dan berkualitas dalam mengajar sulit untuk mencapai mutu pendidikan yang baik. Guru yang berkualiatas adalah guru yang dalam gaya mengajarnya dikelas dapat diterima dan dipahami oleh para siswa ketika menyampaikan pelajaran. Tentu kondisi pembelajaran dikelas akan efektif dan kondusif bagi para siswa. Hal ini akan memberikan efek secara tidak langsung akan mempengaruhi motivasi dan prestasi belajar para siswa.


Guru yang Baik
Guru merupakan sosok yang memiliki peran penting mencerdaskam anak bangsa. Dengan demikian untuk dapat mencerdaskan anak-anak bangsa, guru harus memiliki kualitas dalam ranah pembelajaran dikelas. Guru yang baik adalah guru yang tidak sekedar profesional dalam mengajar tetapi juga memiliki karakter positif yang patut menjadi teladan bagi siswa-siswanya.  Karakteristik the good teachers diantaranya yaitu:

# Is fair and has good discipline
Seyogyanya guru memiliki disiplin dalam segala hal. Sebelum guru menuntut para siswanya untuk disiplin, sang gurulah yang terlebih dahulu  memiliki sikap disiplin dalam dirinya.

# Has a good sense of humour/ smile
selalu menebar senyum kepada setiap siswa. Supaya guru dapat disenangi dan disukai oleh para siswanya sehingga akan membuat para siswa senang untuk belajar.

# Is intelligent/knows the subject
Seorang guru harus memiliki kecerdasan intelektual dalam mengajar di kelas. Dengan kecerdasan intelektual guru dalam mengajar, para siswa mendapat sumber pengetahuan dari guru. Dalam hal ini istilahnya biasa kita sebut dengan “ Transfer of Knowledge”. Namun, perlu diketahui pula bahwa kecerdasan intelektual tidak serta merta berdiri tunggal. Artinya harus diimbangi dengan kecerdasan moral.

Jika kecerdasan intelektual tidak diiringi dengan kecerdasan moral maka akan menghasilkan output siswa yang lebih mementingkan aspek kuantitas atau mementingkan keberhasilan ketimbang proses atau kualitasnya.

Segala cara dianggap halal, yang penting target tercapai semaksimal mungkin. Inilah yang terjadi pada masyarakat kita sehingga kasus plagiarisme (menjiplak karya tulis ilmiah milik orang lain) dan korupsi merajalela di kalangan orang terdidik. Karena itu kecerdasan moral akan mengawal kecerdasan intelektual sehingga akan mampu berlaku jujur dalam situasi apapun. Kejujuran adalah kunci keberhasilan dan kesuksesan.

# Set a good example
Menjadi contoh yang baik bagi para siswanya. Memberikan contoh suri teladan karena bagaimana pun juga guru adalah seorang yang mengemban misi menjadikan para siswanya kelak menjadi generasi muda yang menjunjung tinggi aspek moral dan berkarakter.

# Always helps people having difficulties
Seorang guru harus peka terhadap setiap permasalahan para siswanya di kelas. Kerap kali siswa mengalami hambatan dan kesulitan dalam proses belajar dan hambatan dalam memahami serta menangkap pelajaran. Untuk itu guru harus memiliki kepekaan terhadap siswa yang mengalami hal tersebut dan selalu bersedia membantu mereka yang mengalami kesulitan belajar.

# Gives incentives, reward or house points says “well done”
Memberikan insentif berupa penghargaan ataupun sekedar mengatakan “kamu melakukan tugas dengan baik” kepada siswanya. Hal ini akan membuat siswa merasa bersemangat dan termotivasi untuk belajar dan berprestasi di kelas.      

# Is kind/patient
Sebagai seorang pendidik hendaknya memiliki sikap ramah terhadap setiap siswa dalam proses belajar mengajar di kelas. Agar tercipta suasana belajar para siswa menjadi santai dan menyenangkan serta tidak tertekan selama belajar di kelas.

# Understands/respects everyone as an individual
Selalu mengerti, memahami, dan dan selalu peduli terhadap perkembangan belajar setiap siswa. Memberikan dorongan kepada semua siswa untuk terus belajar dan berprestasi.

# Doesn.t give up/ believes in everyone
Guru juga harus memberikan suatu dukungan kepada setiap siswa ketika menghadapi suatu hambatan dalam belajar dan selalu percaya kepada setiap siswa bahwa mereka adalah murid-murid yang memiliki potensi besar untuk berkembang dan maju.

Menata Reformasi Sistem Pembelajaran  di Kelas
Guru yang baik dengan karakteristik yang sudah dijelaskan diatas tidaklah cukup dengan berdiri tunggal untuk dapat menciptakan suasana iklim belajar yang kondusif dan menyenangkan bagi para siswa. Namun, sebaiknya dipadukan dengan suatu upaya mereformasi sistem pembelajaran di kelas. Tujuannya untuk mengubah gaya pembelajaran di kelas yang dianggap kurang menarik para siswa seperti gaya mengajar guru yang monoton dan hanya ceramah sehingga membuat siswa cepat bosan dan tidak bersemangat untuk belajar di kelas.

Menurut penulis, yang dapat menentukan keberhasilan guru dalam meningkatkan belajar dan prestasi siswa di kelas yaitu, kualitas pola pembelajaran guru. Kualitas yang bersinergi dengan ruang kebebasan bagi para peserta didik untuk melakukan kreativitas dan menciptakan inovasi-inovasi dalam kegiatan belajar mengajar dikelas. Disini guru tidak lagi pilih kasih terhadap anak-anak yang pintar dan anak yang kurang pintar. Betapa ironisnya jika sang guru di Zaman sekarang ini masih saja berbuat pilih kasih dan tidak memberi perhatian secara merata kepada siswa-siswanya. Itu namanya bukan mencerminkan sifat guru sejati. Malah ia telah mendeskreditkan dan mengesampingkan hak asasi siswa untuk mendapatkan pelayanan pengajaran yang adil. Guru yang seperti itu tidak layak disebut sebagai guru, apalagi guru bangsa. Hanya berselimut gelar sebagai pahlawan ‘pencerdasan bangsa’ tetapi tindakan dan hasil pengajarannya berselimut ‘kejahatan semu’ terhadap perkembangan belajar siswa.    

Para pendidik atau guru pun tak luput dari sorotan dan keterlibatan dalam ketertindasan pendidikan yang mengekang kebebasan kreativitas dan daya inovatif para siswa. Betapa tidak, kebanyakan gaya mengajar para pendidik di Indonesia khususnya sekolah formal tanpa disadari telah melahirkan budaya”silent” bagi para siswa. Mengapa dapat dikatakan seperti itu? Karena para pendidik menerapkan gaya mengajar klasikal, monoton, membosankan, dan berpusat pada guru. Memandang gurulah yang paling tahu dan pintar dalam pembelajaran. Tidak hanya itu culture domination pun kerap kali mewarnai proses kegiatan belajar mengajar di kelas oleh para pendidik. Para pendidik tersebut dianggap telah gagal menjalankan fungsinya sebagai guru yaitu mendidik para siswanya. Setiap siswa memang memiliki karakter dan sifat yang berbeda-beda serta gaya belajarnya yang berbeda-beda pada masing-masing anak. Untuk itulah disini sang guru harus dituntut mempunyai keahlian dalam mengahadapi para murid. Yaitu keahlian untuk dapat mereformasi sistem pembelajaran di kelas ke arah yang lebih baik.

Sudah saatnyalah kini guru-guru Indonesia untuk terus berpacu memperbaiki mutu kualitas SDM dalam mengajar dan menata sistem pembelajarannya di kelas. Melaksanakan dan menanamkan semboyan yang telah dicetuskan oleh Ki Hajar Dewantara yaitu pertama Ing ngarsa sung tulada (di depan, seorang pendidik harus memberi teladan atau contoh tindakan baik).Dari depan seorang guru harus memberikan suri teladan dan contoh yang baik kepada peserta didiknya melalui perilaku dan tindakannya selama kegiatan belajar mengajar dikelas.

Kedua, Ing madya mangun karsa (di tengah atau di antara murid, guru harus menciptakan prakarsa dan ide). Disini guru harus dapat menciptakan inovasi-inovasi dan ide baru dalam mengajar sehingga dengan inovasi tersebut dapat memacu dan meningkatkan mutu dan prestasi siswa.

Ketiga, Tut wuri handayani (dari belakang seorang guru harus bisa memberikan dorongan dan arahan). Guru dituntut harus dapat memberikan dorongan apabila ada siswa yang memerlukannya. Guru harus memiliki kepekaan terhadap siswanya yang mengalami masalah dalam pembelajarannya. Kemudian selain mendorong meningkatkan motivasi belajar siswa guru juga diharapkan dapat memberikan arahan. Mengarahkan siswa-siswanya tanpa pilih kasih dalam kegiatan belajar mengajar sehingga terjadi harmonisasi di antara semua peserta didik. Tidak ada yang merasa terdiskriminasi, tidak ada yang lebih dominan, dan tidak ada yang direndahkan ataupun merasa ditinggikan. Dengan arahan yang bijak, semua siswa akan merasa mendapatkan porsi pelayanan pengajaran yang adil dan merata sesuai dengan kapasitas dan kemampuan mereka.

Sunday, 30 December 2012

Misteri Senyuman Monalisa

Leonardo Da Vinci Melukis Monalisa Pada selembar kayu cemara pada tahun 1505. Saat ini lukisan Monalisa dipamerkan di Museum Louvre, Paris, dan menjadi karya dunia yang sangat legendaris!

Mengapa karya ini sangat dikagumi?
Hal ini tentunya mengandung teka-teki soal senyuman pada lukisannya.



Dr. Lillian Schwartz dari laboratorium Bell menduga bahwa Leonardo melukis dirinya sendiri, dia menguatkan teorinya dengan menganalisa struktur wajah Leonardo dan seseorang yang sangat terkenal dalam lukisannya, dia mengatur sedemikian rupa dan menggabungkan kedua wajah Leonardo dan Monalisa. Dan hasilnya perfect, mirip sekali dengan dugaan Schwartz.

Beberapa sumber juga mengatakan Monalisa disebut juga sebagai “La Gioconda” berdasar nama modelnya, yang diperkirakan adalah istri Francesco del Giocondo, seorang pedagang dari Florentine, yang dalam bahasa Italia, La Gioconda berarti juga wanita yang gembira.
Anda punya pendapat atau masukan lain? silahkan tinggalkan di pos komentar

Wednesday, 12 December 2012

7 Jurusan Kuliah Yang Menjanjikan Masa Depan

Bagi teman-teman yang baru lulus dari SMA, tentu jenjang kuliah jadi proses berikutnya untuk menjadi orang yang lebih sukses dan menjanjikan untuk masa depan. Untuk itu harus memilih jurusan yang tepat dan menjanjikan di masa depan. Berikut beberapa jurusan kuliah yang menjanjikan di masa depan :

Thursday, 6 December 2012

Pengelolaan Kelas


A.KONSEP DASAR PENGELOLAAN KELAS
Menurut “ LOIS V  Jonson “ dan “Maria bani”  (class room menejement) yang di ikhtibarkan oleh DR. Made Pidarta (1970).
1.    Pengelolaan kelas di tinjau dari konsep lama adalah mempertahankan ketertiban kelas
2.    Pengelolaan kelas di tinjau dari konsep moderen adalah proses seleksi dan penggunaan alat –alat yang tepat  terhadap problem dan situasi kelas
3.    Konsep dasar pengelolaan kelas sangat perlu dan penting dipahami oleh seorang pendidik karena konsep dasar pengelolaan kelas berperan penting dalam menciptakan suasana kelas yang konduksif.

B.TUJUAN PENGELOLAAN KELAS
Secara umum tujuan pengelolaan kelas  adalah penyediaan fasilitas bagi bermacam –macam kegiatan belajar siswa dalam lingkungan social . Suharsimi Arikunto ,(1988:68) berpendapat bahwa bertujuan pengelolaan adalah agar setiap anak dikelas padat bekerja dengan tertib sehingga segera tercapai tujuan pengajaran secara efektif dan efisien tujuan pengelolaan kelas pada hakikatnya  telah terkandung dalam tujuan pendidikan sebagai guru kita harus sadar tanpa mengelola kelas dengan baik maka akan menghambat kegiatan belajar mengajar.

C. PENEGRTIAN PENGELOLAAN KELAS
Pengelolaan kelas berdiri dari dua kata yaitu : pengelolaan dan kelas
Kata Pengelolaan  adalah  berasal dari kata “kelola” ditambah awalan  “pe dan an”.    Istilah lain dari pengelolaan kelas menagemen yang berarti tata pimpinan pengelolan.
Sedangakan kelas menurut ‘’ UMAR HAMALIK (1987;311)’’ adalah kelompok orang yang melakukan kegiatan belajar bersama yang dapat pengajaran dari guru . “SUHARSIMI ARIKUNTO” berpendapat bahwa pengelolaan kelas adalah suatu usaha yang dilakukan oleh penanggung jawab kegiatan belajar mengajar / yang membantu dengan maksud  agar di capai kondisi yang optimal sehingga dapat terlaksana kegiatan belajarsiswa dapat berjalan dengan lancar dan terciptanya kondisi belajar yang optimal untuk berlangsungnya kegiatan belajar siswa.

D. BERBAGAI PANDANGAN TENTANG PENGELOLAAN KELAS
Arti pengelolaan kelas dapat ditinjau dari beberapa pandangan :
1.    Pandangan otoriter bahwa pengelolaan kelas sebagai proses mengontrol tingkah laku siswa atau seperangkat kegiatan guru untuk mempertahankan ketrtiban kelas.
2.    Pandangan permisif bahwa pengelolaan kelas adalah  seperangkat kegiatan guru untuk memaksudkan kebebasan siswa.
3.    Pandangan behavarior modivikation adalah seperangkat kegiatan guru untuk mengubah tingkah laku siswa. (proses pengubahan tingkah laku) kearah positif.
4.    Pandangan proses kelompok, bahwa pengelolaan keles adalah seperangkat kegiatan guru untuk menambahkan organisasi kelas yang efektif.

E.KONSEP OPERASIONAL PENGELOLAAN KELAS
Agar tercipta suasana belajar yang menggairahkan. Perlu diperhatikan pengaturan ruang kelas belajar penyusunan dan pengaturan ruang belajar hendaknya memungkinkan anak duduk berkelompok dan memudahkan guru bergerak secara leluasa untuk membantu siswa dalam belajar.
Dalam pengaturan ruang belajar, ada beberapa hal yang peerlu diperhatikan:
a.    Ukuran dan bentuk kelas
b.    Bentuk serta ukuran bangku dan meja siswa
c.    Jumlah siswa dalam kelas
d.    Jumlah siswa dalam setiap kelompok
Komposisi siswa dalam kelompok (seperti siswa yang kurang pandai dan yang pandai, pria dan wanita).

F. PRINSIP PENDEKATAN DALAM PENGELOLAAN KELAS
Sebagai pekerja professional seorang guru harus mendalami kerangka acuan pendekatan kelas,sebab di dalam penggunaannya ia harus terlebih dulu meyakinkan bahwa pendekatan yang di pilihnya untuk menangani suatu kasus pengelolaaan kelas merupakan alternative yang terbaiksesuai dengan hakikat masalahnya.
Berbagai pendekatan yang guru lakukandalam rangka pengelolaan kelas :
1.    Pendekatan kekuasaan
Pengelolaan kelas diartikan sebagai suatu proses untuk mengontrol tingkah laku anak didik peranan guru disini adalah menciptakan dan mempertahankan situasi disiplindalam kelas.
2.    Pendekatan ancaman
Dari pendekatan ancaman ini pengelolaan kelas adalah juga sebagai suatu proses dalam mengontrol tingkah laku anak didik
3.    Pendekatan pengajaran
Pendekatan ini di dasarkan atas suatu tanggapan bahwa suatu perencanaandan pelaksanaan akan mencegah munculnya masalah tingkah laku anak didik.
4.    Pendekatan perubahan tingkah laku
a.    Semua tingkah laku yang baik dan yang kurang baik merupakan hasil proses belajar.
b.    Di dalam prosees belajar terdapat proses psikologis yang tanda mental berupa penguatan positif.

Dalam rangka memperkecil masalah gangguan oleh pengelolaan kelas, prinsip – prinsip pengelolaan kelas  dapat dipergunakan . maka adalah penting bagi guru untuk mengetahui dan menguasai prinsip – prinsip pengelolaan kelas yang akaan diuraikan sebagai berikut:
1.    Hangat dan antusiasi
Hangat dan antusiasi sangat diperlukan dalam proses belajar mengajar.
2.    Tantangan
Penggunaan kata –kata Tanya atau bahan – bahan yang menantang akan meningkatkan gairah anak didik untuk belajar.
3.    Penanaman disiplin diri
Tujuan akhir dari pengelolaan kelas adalah anak didik dapat mengembangkan disiplin diri sendri.

Kualitas Pendidikan di Indonesia

A. Kualitas Pendidikan di Indonesia
Bagi orang-orang yang berkompeten terhadap bidang pendidikan akan menyadari bahwa dunia pendidikan kita sampai saat ini masih mengalami “sakit”.Dunia pendidikan yang “sakit”ini disebabkan karena pendidikan yang seharusnya membuat manusia menjadi manusia,tetapi dalam kenyataannya seringkali tidak begitu.Seringkali pendidikan tidak memanusiakan manusia.Kepribadian manusia cenderung direduksi oleh system pendidikan yang ada.
Masalah pertama adalah bahwa pendidikan,khususnya di Indonesia,menghasilkan”manusia robot”. Kami katakan demikian karena pendidikan yang diberikan ternyata berat sebelah, dengan kata lain tidak seimbang.Pendidikan ternyata mengorbankan keutuhan,kurang seimbang antara belajar berfikir(kognitif)dan perilaku belajar yang merasa (efektif).Jadi unsur integrasi cenderung semakin hilang,yang terjadi adalah disintegrasi.Padahal belajar tidak hanya berfikir.Sebab ketika orang sedang belajar,maka orang yang sedang belajar tersebut melakukan berbagai macam kegiatan,seperti mengamati,membandingkan,meragukan,menyukai,semangat dan sebagainya.Hal yang sering disinyalir ialah pendidikan seringkali dipraktekkan sebagai sederetan instruksi dari guru kepada murid.Apalagi dengan istilah yang sekarang sering digembar-gemborkan sebagai “pendidikan yang diciptakan manusia siap pakai.Dan”siap pakai”di sini berarti menghasilkan tenaga-tenaga yang dibutuhkan dalam pengembangan dan persaingan bidang industry dan teknologi.
Ada dua factor yang mempengaruhi kualitas pendidikan,khususnya di Indonesia yaitu:

1. Faktor internal,meliputi jajaran dunia pendidikan baik itu Depatemen Pendidikan Nasional,Dinas Pendidikan daerah, dan juga sekolah yang berada di garis depan.Dalam hal ini,interfensi dari pihak-pihak yang terkait sangatlah dibutuhkan agar pendidikan senantiasa selalu terjaga dengan baik.
2. Faktor eksternal, adalah masyarakat pada umumnya.Dimana,masyarakat merupakan ikon pendidikan dan merupakan tujuan dari adanya pendidikan yaitu sebagai objek dari pendidikan.

Banyak faktor-faktor yang menyebabkan kualitas pendidikan di Indonesia semakin terpuruk.Fakto-faktor tersebut yaitu:
1. Rendahnya Kualitas Sarana Fisik
Untuk sarana fisik misalnya,banyak sekali sekolah dan perguruan tinggi kita yang gedungnya rusak,kepemilikan dan penggunaan media belajar rendah,buku perpustakaan tidak lengkap.Sementara laboraturium tidak standar,pemakaian teknologi informasi tidak memadai dan sebagainya.Bahkan masih banyak sekolah yang tidak memiliki gedung sendiri,tidak memiliki perpustakaan,tidak memiliki laboraturium dan sebagainya.
2. Rendahnya Kualitas Guru
Keadaan guru di Indonesia juga amat memprihatinkan.Kebanyakan guru belum memiliki profesionalisme yang memadai untuk menjalankan tugasnya sebagaimana disebut dalam pasal 39 UU No 20/2003 yaitu merencanakan pembelajaran,melaksanakan pembelajaran,menilai hasil pembelajaran,melakukan pembimbingan,melakukan pelatihan,melakukan penelitian dan melakukan pengabdian masyarakat.
3. Rendahnya Kesejahteraan Guru
Rendahnya kesejahteraan guru mempunyai peran dalam membuat rendahnya kualitas pendidikan Indonesia.Dengan pendapatan yang rendah,terang saja banyak guru terpaksa melakukan  pekerjaan  sampingan.Ada yang mengajar lagi di sekolah lain,memberi les pada sore hari,menjadi tukang ojek,pedagang mie rebus,pedagang buku/LKS,pedagang pulsa ponsel, dan sebagainya.
4. Rendahnya Prestasi Siswa
Dengan keadaan yang demikian itu (rendahnya sarana fisik,kualitas guru,dan kesejahteraan guru)pencapaian prestasi siswa pun menjadi tidak memuaskan.
Anak-anak Indonesia ternyata hanya mampu menguasai 30% dari materi bacaan dan ternyata mereka sulit sekali menjawab soal-soal berbentuk uraian yang memerlukan penalaran.Hal ini mungkin karena mereka sangat terbiasa menghafal dan mengerjakan soal pilihan ganda.
Selain itu, hasil studi The Third International Mathematic and Science Study-Repeat-TIMSS-R,1999(IEA,1999)memperlihatkan bahwa,diantara 38 negara peserta,prestasi siswa SLTP kelas 2 Indonesia berada pada urutan ke-32 untuk IPA,ke-34 untuk matematika.Dalam dunia pendidikan tinggi menurut majalah Asia Week dari 77 universitas yang di survey di asia pasifik ternyata 4 universitas terbaik di Indonesia hanya mampu menempati peringkat ke-61,ke-68,ke-73,dank e-75.
5. Kurangnya Pemerataan Kesempatan Pendidikan
Kesempatan memperoleh pendidikan masih terbatas  pada tingkat sekolah dasar. Data Balitbang Departemen Pendidikan Nasional dan Direktorat Jendral Binbaga Departemen  Agama tahun 2000 menunjukkan angka partisipasi murni (AMP) untuk anak usia SD pada tahun 1999 mencapai 94,4% (28,3 juta siswa) pencapaian APM ini termasuk kategori tinggi . angka partisipasi murni pendidikan di SLTPmasih rendah yaitu 54,8% (9,4 juta siswa).
6.Rendahnya Relevansi Pendidikan dengan kebutuhan
hal tersebut dapat dilihat dari banyaknya lulusan yang menganggur . data BAPPENAS (1996) yang dikumpulkan sejak tahun 1990 menunjukkan angka pengangguran terbuka yang dihadapi oleh lulusa SMU sebesar 25,47 %,Diploma / SO sebesar 27,5% dan PT sebesar 36,6%.
Adanya ketidak serasian antara hasil pendidikan dan kebutuhan dunia kerja ini disebabkan kurikulum yang materinya kurang fungsional terhadap keterampilan yang dibutuhkan ketika peserta didik memasuki dunia kerja.
7. Mahalnya biaya  pendidikan
Pendidikan bermutu itu mahal, kalimat ini yang sering muncul untuk menjustifikasi mahalnya biaya yang harus dikeluarkan  masyarakat untuk mengenyam bangku pendidikan. Mahalnya biaya pendidikan dari tamn kanak – kanak (TK) hingga perguruan tinggi (PT) membuat masyarakat miskin  tidak boleh sekolah.

B. STATUS PENDIDIKAN
Pendidikan  secara garis besar kemajuan pendidikan tidak lepas dari mutu  pendidikan ya.pendidikan sangat  penting  khususnya dalam  mensejahterakan bangsa dan Negara. Sutau konsekuensi yang besar bila menitik beratkan pendidikan sebagai benteng pertahanan masa depan. Sehingga ancaman zaman bisa ter-elakkan.
Seain itu juga Selain Status Pendidikan yang dianggap rendah, Lapangan Kerjapun terbatas dan Gaji yang di terima bahkan relative  minim. Perbedaan Pendidikan yang didapat dan Biaya yang di keluarkan untuk kuliah, mungkin jadi Tolak Ukur antara Pendidikan SMU dan Sarjana.
Tetaplah terus Berjuang untuk mendapatkan Hak Bekerja. Dan Bekerjalah dengan baik Walau dengan keterbatasan Pendidikan, Karena tidak menutup kemungkinan Lulusan SMU pun bisa sesukses Sarjana.Gali potensi diri untuk dijadikan Nilai lebih, pandai-pandailah Belajar dan Bergaul. Serta perbanyaklah Membaca untuk menambah Wawasan dan Pengetahuan dan Bekali Diri dengan Kursus-kursus yang bermanfaat.

Sunday, 2 December 2012

Pentingnya Pendidikan Seni Rupa Terhadap Perkembangan Otak Anak

Otak adalah organ tubuh terpenting manusia yang tak hanya sebagai pusat kontrol, tetapi juga pusat kendali, tetapi juga sebagai pusat kendali atas semua sistem dalam tubuh. Otak merupakan organ inti kecerdasan dan kemampuan berpikir manusia. Secara anatomi otak terbagi kepada beberapa bagian. Bagian terbesar disebut dengan otak bear dengan dua belahan yang terkenal dengan otak kiri dan otak kanan.
Menurut riset Prof. Regar Sperry menyatakan otak cenderung membagi aktivitas menjadi dua yaitu : aktivitas otak kiri dan aktivitas otak kanan. Bila yang satu aktif yang lain cenderung in aktif. Otak kiri berhubungan dengan logika, urutan bahasa angka, angka dan analisa. Sedangkan otak kanan akan aktif bila berhubungan dengan ritme, kreativitas, warna, imajinasi dan dimensi. Namun dalam riset yang berbeda oleh Prof. Robert Ormstein. Dr. Robert Bloch dan Tony Iluxan membuktikan bahwa mengembangkan aktivitas otak kiri dan kanan secara harmonis dan simultan akan menggandakan kemampuan dasar secara sinergi.
 
Potensi belahan otak kiri dan kanan
Pertumbuhan otak anak paling pesat terjadi pada usia 0-2 tahun, dimana volume otak akan mencapai 80 %. Akan tetapi tidak berarti bahwa perkembangan otak berhenti hanya sampai disitu saja. Volume otak anak terus berjalan hingga usia 12 tahun. Hal ini membuat pemberian nutrisi dan stimulasi bagi perkembangan otak masih tetap sangat dibutuhkan, bahkan setelah usia 12 tahun. Perlu pro aktif orang tua dalam membentuk perkembangan otak kiri dan kana secara seimbang. Untuk kecerdasan yang optimal.
 
Fungsi otak kiri bagi perkembangan anak
-         Mengontrol kemampuan gerak dan fungsi tubuh sebelah kanan
-         Mengontrol kemampuan bicara dan menulis
-         Mengontrol kemampuan bahasa dan pengucapan
-         Mengontrol kemampuan menganalisa dan pengambilan keputusan
-         Mengatur logika berfikir
-         Mengontrol kemampuan berhitung
 
Fungsi otak kanan untuk perkembangan anak
-         Mengontrol kemampuan gerak dan fungsi tubuh sebelah kiri
-         Mengontrol kemampuan berfikir secara konseptual
-         Memahami bahasa yang sederhana atau kreatifitas isi pembicaraan
-         Mengatur kemampuan bermusik dan visualisasi 
-         Mengontrol daya ingat
-         Pengembangan imajinasi dan kreatifitas bagi anak.
 
Orang tua memiliki peran yang sangat strategis untuk mendukung perkembangan kecerdasan anak secara optimal. Di samping gizi yang seimbang sudah tentu menciptakan kondisi lingkungan yang mensimulasi aktivitas otak kiri dan kanan. Kenalkan anak sedini mungkin dengan warna, kosa kata, cerita dan berkreatifitas.
 
Pendidikan seni berperan penting untuk perkembangan belahan otak bagian kanan
Banyak masyarakat kita (para orang tua) yang menganggap bahwa pelajaran seni khususnya seni rupa, bukanlah pelajaran penting. Apalagi bila ditinjau dari segi ekonomisnya. Karena pelajaran seni rupa selalu dihentikan dengan biaya yang besar. Sementara di pihak lain secara praktis pendidikan seni rupa dianggap tidak menghasilkan keuntungan material yang memadai.
Ditambah lagi tentang pengalaman berkesenian seseorang yang tidak memberikan jaminan apa-apa secara material. Tidak bisa kita pungkiri, bahwa kehidupan seorang seniman tidak menjamin kemapanan secara materi. Banyak seniman yang punya nama besar, tetapi tetapi tetap hidup miskin. Sehingga banyak orang tua yang melarang anaknya untuk menjadi seniman. Kecuali jika hanya sebagai hobi
Sementara bagi siswa sendiri pelajaran seni rupa adalah suatu yang harus diiringi dengan bakat. Jika tidak berbakat bagaimanapun cara belajarnya hasilnya tetap tidak akan bagus.
Dewasa ini diberbagai sekolah jam pelajaran untuk berkesinambungan diperkecil. Bahkan di beberapa sekolah unggul ada yang sudah dihapuskan sama sekali. Padahal menurut Prof. Ramesh Ganta (Kakatia University) “Bahwa bangsa yang menggusur pendidikan seni dari kurikulum sekolahnya akan menghasilkan generasi yang berbudaya kekerasan di masa depan, karena kehilangan kepekaan untuk membedakan nuansa baik dan nuansa buruk” (Disampaikan pada kongres international society for education through art di Asia Pasifik tahun 1994).
Di negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Paris, bila diteliti silabus pelajarannya ada mata pelajaran yang membantu anak lebih banyak mengetahui tentang seni : yaitu art dan mitologi. Anak-anak di sana tidak hanya tahu tentang keindahan sebuah lukisan yang terpajang tetapi juga mengetahui latar belakang pelukisnya atau perspektif sejarah ketika lukisan itu digoreskan di atas kanvas. Hal inilah barangkali yang membuat orang-orang Amerika mempunyai apresiasi yang cukup tinggi. Sejak kecil mereka dididik untuk mencintai museum dan karya seni.
Nah cobalah tanya anak-anak pelajar yang ada di sekitar kita, dalam setahun berapa kali sudah mengunjungi museum? Atau sudah berapa kalikah kita membawa anak ke museum dan pameran seni rupa? Atau bila lebih jeli, silahkan intip kurikulum sekolah anak kita, adakah di dalamnya terselip study ke museum? Mengunjungi pameran lukisan dan patung? Menghadiri pementasan teater? Menikmati musik daerah? Saluang atau Gamad atau Rabab dan Randai?
Harus kita akui dan perlu kita sadari bersama bahwa operasi seni dan budaya adalah salah satu elemen yang memperhalus karakteristik seseorang. Dilandasi kenyataan tersebut sangat penting artinya memberikan pendidikan seni rupa terhadap tumbuh kembang anak antara lain :
  1. Pendidikan seni rupa mampu memberikan kebebasan tanpa paksaan dalam pengalaman batin anak.
  2. Pendidikan seni rupa merupakan pendidikan ekspresi sebagai upaya pencerdasan anak dalam membentuk mental yang sehat jasmani dan rohani, berdisiplin penuh tanggung jawab, kritis bijaksana, berbudaya dan memiliki perasaan halus terhadap berbagai persoalan yang lahir di sekitarnya.
  3. Pendidikan seni rupa mampu menghidupkan fantasi, melatih ketangkasan berfikir diiringi ketajaman penghayatan terhadap alam sekitar serta lingkungan dimana anak-anak berada.
  4. Pendidikan seni rupa mampu mendatangkan jiwa dan raga anak-anak hingga kelak mencintai daerahnya dengan dilandasi nilai estetis dan artistik.
Lesunya berbagai cabang seni budaya luhur kita antara lain, karena absennya apresiasi masyarakat terhadap seni. Mungkin saja cara pengajaran dan pendidikan seni budaya kita baru sampai pada permukaan, belum menukik ke inti, yang membuat masyarakat kita memberikan penghargaan tinggi pada karya seni dan budaya kita.
Kekurangan dalam sistem pendidikan kita ini perlu disadari oleh para orang tua, eksekutif dan para pelaku pendidikan. Kita bersyukur dampaknya acara pekan budaya Sumatera Barat telah menjadi taman budaya setiap tahunnya. Dari acara ini tentunya diharapkan untuk tumbuh wawasan apresiasi seni dan budaya pada masyarakat sekitar.
Sayangnya dari undangan yang hadir saya tidak melihat anak sekolah/pelajar minimum perwakilan dari mereka. Hal ini hendaknya menjadi catatan tersendiri bagi panitia, bahwa untuk ke depannya, generasi muda kita dirangkul dalam setiap kegiatan seni budaya, minimal menjadi undangan. Karena dengan terjun langsung ke lapangan, setiap anak akan melihat, mendengar dan menyaksikan langsung bagaimana luhurnya keanekaragaman seni dan budaya mereka. Tentu akan sangat berbeda hasilnya dibanding hanya dengan membaca dari buku, atau mendengarkan guru bercerita di depan kelas dengan waktu yang sangat terbatas. Ini tentu saja akan memberikan stimulus yang sangat besar untuk perkembangan potensi belahan otak bagian kanan anak.

Sunday, 18 November 2012

Cara Mengenali Minat dan Bakat Siswa

Banyak guru bingung dalam mengenali bakat dan minat siswanya. Ada siswa yang selama hidupnya tidak tahu bakatnya karena tidak pernah dieksplorasi. Tetapi ada anak yang dengan sendirinya mengenali bakat dan minatnya. Jika guru membantu anak mengenali bakat dan minatnya tentu perbuatan itu sangat membantu anak dalam mengembangkan hidupnya.

Bakat tidak sama dengan kecerdasan. Bakat lebih mengacu pada motorik maupun keterampilan yang ditampilkan anak. Dengan kata lain, bakat bisa terlihat oleh orang lain. Cara yang dilakukan adalah terus-menerus mengasah bakat melalui latihan. Bakat tidak akan berkembang bila tak ada penguat, sehingga kemudian hilang. Selain bakat, mereka juga mempunyai minat terhadap bidang yang digeluti. Adanya minat juga akan menguatkan bakat tersebut.
Sedikit Bantuan
Bagaimana bisa mengetahui kalau anak berbakat? Menurut Dra. Clara Kriswanto, MA, CPBC, psikolog dari Jagadnita Consulting, anak-anak yang berbakat umumnya lebih cepat menguasai bidang tertentu dibanding anak lain, tanpa mengeluarkan usaha keras.
Contohnya anak yang berbakat menyanyi, akan lebih mudah mengenali not, ketajaman nadanya juga bagus. Anak yang berbakat dalam bidang linguistik atau bahasa, bisa meniru atau menghafal bahasa asing lebih cepat.
Begitu anak yang mempunyai bakat menggambar atau melukis. Kualitas garis yang dimiliki anak tersebut akan terlihat lebih halus. Mereka mengerti warna, komposisi yang dibuat juga lebih bagus dan menarik.
Anak yang berbakat juga bisa mempelajari sesuatu dengan cara berbeda dibanding anak lain. “Anak berbakat hanya memerlukan sedikit bantuan dari orang dewasa. Mereka kerap memecahkan masalah dengan caranya sendiri,” ungkap perempuan yang menyelesaikan MA dalam bidang Applied Anthropology & Community and Youth Work Goldsmith College University of London.
Anak yang senang mengutak-atik mainan merupakan wujud dari minatnya terhadap benda tersebut. Baginya, mengutak-atik mainan merupakan eksplorasi dari keingintahuannya lebih lanjut.
Anak yang mempunyai bakat biasanya juga mampu memotivasi diri sendiri untuk mempelajari hal-hal yang sangat disukainya. Anak yang senang bermain piano atau berenang tak hanya berlatih saat gurunya datang. Mereka akan berlatih piano atau berenang tanpa disuruh.
“Idealnya, bakat yang dimiliki oleh anak sejalan dengan minatnya. Dengan begitu, potensi atau kemampuan yang dimiliki anak akan tergali secara optimal, sehingga anak mampu berprestasi,” tutur Clara.
Bangkitkan Minat
Sayangnya tak semua bisa berjalan beriringan antara bakat dan minat. Ada anak berbakat yang ternyata tidak berminat dengan bakat yang dimilikinya. Bila ini terjadi, kata psikolog lulusan UI ini, diperlukan dukungan lebih banyak dari orangtua, agar bakat anak bisa terasah secara optimal.
Kalau tidak mendapat dukungan dari orangtua atau dibangkitkan minatnya, bakat yang dimiliki anak tidak akan berkembang. Bisa saja anak tersebut agak lambat untuk mengembangkan kemampuannya, terutama ketika menyadari bahwa ia mempunyai bakat dalam bidang tertentu.
Madonna contohnya. Di usia 40 tahun, saat sudah mempunyai dua anak, ia membuat buku anak. Bakat yang dimilikinya baru disadari saat dirinya menjadi seorang ibu.
Sebenarnya hal serupa juga bisa terjadi pada anak yang mempunyai minat dalam bidang tertentu, tetapi tidak berbakat. Contohnya anak ingin mengikuti Indonesia Idol, tetapi tidak mempunyai bakat menyanyi. Nah, pada anak tipe ini, dibutuhkan usaha yang lebih keras dibandingkan anak berbakat. Caranya tentu saja dengan mengikuti les vokal untuk mendapat suara yang baik.
Yang penting, tambah Clara, orangtua perlu memperkaya minat anak. Jangan sampai anak hanya terpaku dengan satu minat saja. Anak yang berminat pada sepakbola, misalnya, sebaiknya juga dikenalkan dengan kegiatan lain.
“Katakan pada anak bahwa olahraga tidak hanya sepakbola. Masih ada kegiatan lain, seperti seni, yang bisa dikenalkan,” kata Clara.
Cara mudahnya adalah dengan mengenalkan anak kepada teman-teman sebaya yang mempunyai beragam minat dan bakat.
Lakukan Tes Bakat
Ada beberapa cara untuk mengenali bakat anak, yaitu:
1. Melihat tingkah laku anak. Kegiatan apa yang sering dilakukannya? Anak lebih berminat pada hal-hal apa?
2. Mengikuti perkembangan anak dengan cermat.
3. Memberikan berbagai macam stimulus atau rangsangan kepada anak, misalnya dengan memberikan les atau permainan yang variatif.
4. Melakukan tes psikologi (tes bakat) untuk melihat kelebihan dan kelemahan anak. Tes ini bisa dilakukan saat anak berusia 7 tahun atau saat masuk sekolah. Pada usia tersebut sudah terlihat bakat serta minat anak.

Pahami Perkembangan Anak
Menurut Dra. Clara Kriswanto, MA, CPBC, ada hal-hal yang perlu diperhatikan oleh orangtua saat memberikan les untuk anak.
1. Tidak mengutamakan pencapaian target. Penting diingat bahwa les diberikan sebagai upaya pengenalan kegiatan kepada anak.
2. Les sebaiknya diberikan oleh guru yang memahami perkembangan anak. Jangan sampai guru memberi hukuman saat anak tidak bisa mengikuti les. Clara mencontohkan, saat anaknya harus les piano, selalu menangis bila sudah sampai di tempat les. Setelah ditilik, rupanya guru les kerap mencubit atau memukul tangan anaknya bila tidak bisa mengikuti instruksi sang guru.
3. Pastikan anak tetap memiliki waktu yang seimbang untuk bermain dan istirahat.
4. Jangan memaksakan kehendak kepada anak. Yang harus diutamakan adalah minat anak.
5. Tetap pantau perkembangan anak.
6. Upayakan untuk mengembangkan semua aspek kemampuan anak.

Bakat Saja Tidak Cukup!
Psikolog Clara Kriswanto menegaskan bahwa bakat saja tidak cukup. Setidaknya diperlukan tiga hal lain yang akan mengasah potensi anak :
a. Harus ada dukungan dari orangtua maupun lingkungan
Dukungan yang diberikan tak hanya dalam bentuk materi, tetapi juga dukungan moril. Memberikan pujian (tanpa berlebihan dan terlalu sering) saat anak menunjukkan kemampuan juga menjadi bentuk dukungan. Bentuk dukungan juga bisa diberikan dengan tidak membanding-bandingkan anak dengan saudara atau temannya, apalagi sampai mendapat label negatif.
b. Tidak berhenti berusaha
Kalau anak tidak berminat, padahal mempunyai bakat di bidang seni atau olahraga, hendaknya orangtua tidak menyerah. Bisa saja anak merasa malas karena terlalu banyak les, hingga kelelahan. Ada baiknya tidak mengikutkan les terlalu banyak bagi anak. Orangtua hendaknya tidak memaksakan kehendak pada anak. Hukuman fisik seperti mencubit atau memukul saat anak tidak berlatih harus dihindari. Hukuman dapat membuat anak tidak tertarik pada kegiatan tersebut.
c. Berikan fasilitas yang memadai
Fasilitas yang diberikan tidak harus selalu mahal. Sediakan fasilitas sesuai kemampuan orangtua. (Sumber: Kompas. com/Diana Yunita Sari)

Tips Sukses Menjadi Guru ala Gisele Glosser

Dalam satu kesempatan blog walking, saya terdampar di sebuah situs yang bernama Math Goodies. Sesuai dengan namanya, situs ini merupakan portal yang menyediakan informasi khusus tentang pembelajaran Matematika.
Sekali pun saya bukanlah ahli matematika, tetapi saya tertarik untuk menelusuri isi website ini, dan akhirnya saya menemukan sebuah artikel yang berjudul “Tips For New Math Teachers”, ditulis oleh Gisele Glosser. Tulisan ini bersi 15 Tips mengajar bagi guru Matematika pemula, yang isinya mungkin sebagian sudah dipraktikkan dalam tugas keseharian kita sebagai guru.
Saya berusaha memahami isi tulisan tersebut dan mengkonstruksikannya kembali dalam bahasa yang saya pahami. Setelah dilakukan berbagai penyesuaian, saya mencoba menuangkan kembali tulisan tersebut, dengan lingkup yang diperluas, tidak hanya berlaku bagi para guru Matematika pemula, tetapi mungkin dapat berlaku umum, untuk semua kalangan dan semua mata pelajaran.
Kelima belas tips mengajar tersebut adalah:

1. Berpikir kritis dan usaha yang jujur lebih penting daripada jawaban yang benar. Cobalah untuk tidak mengerutkan kening ketika siswa memberikan jawaban yang salah atau keliru. Mengerutkan kening seringkali ditafsirkan sebagai bahasa isyarat penolakan yang dapat menghambat siswa untuk berpartisipasi dalam mengekspresikan pemikirannya. .
2. Tidak ada pengajaran tanpa pengendalian. Lebih baik Anda bersusah payah pada hari-hari awal masuk sekolah untuk menemukan cara-cara terbaik dalam mengelola kelas dan mendisiplinkan siswa, daripada Anda harus melakukan perjuangan berat sepanjang semester karena Anda tidak berhasil menemukan cara yang paling efektif dalam pengelolaan kelas.
3. Kadang-kadang hal terbaik untuk dilakukan adalah berhenti berbicara. Jika terjadi kebisingan di kelas, Anda tidak perlu berteriak-teriak meminta para siswa agar berhenti gaduh. Cobalah Anda berdiri di depan kelas dengan tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, kemudian tataplah mereka (khususnya siswa yang menjadi sumber keributan) dengan tetap tanpa menunjukkan ekspresi marah.
4. Cobalah lakukan kegiatan yang bervariasi dari waktu ke waktu. Dalam proses pembelajaran rutinitas dan terstruktur memang hal yang baik, tapi apabila hal ini terlalu banyak dilakukan dapat menyebabkan Anda dan kelas Anda jatuh terjerembab ke dalam suatu kebiasaan yang membosankan.
5. Mendorong siswa untuk bepartisipasi aktif. Berikan kesempatan kepada setiap siswa untuk tampil di depan kelas atau mempersilahkan mereka untuk bekerja dalam kelompok. Sedapat mungkin hindari pembelajaran yang berpusat pada guru untuk sepanjang tahun.
6. Cobalah untuk bersikap fleksibel. Misalnya, pada saat berlangsung proses pembelajaran di kelas, Anda punya aturan ketat terhadap siswa tentang permen karet. Tetapi mungkin Anda dapat memejamkan mata untuk hal ini ketika siswa sedang menghadapi ujian.
7. Cobalah uraikan secara jelas topik-topik apa yang akan diujikan. Anda tidak hanya cukup dengan mengatakan dan menyuruh siswa “Minggu depan ulangan, silahkan Pelajari Bab 6!”. Perintah dan penugasan semacam ini akan dirasakan membingungkan, terutama bagi para siswa yang kurang memiliki keterampilan belajar.
8. Meminta dukungan manajemen. Adalah penting untuk mendapatkan dukungan dari manajemen ketika Anda berhadapan dengan isu-isu sulit, terkait dengan proses pembelajaran yang Anda lakukan. Misalnya, meminta dukungan untuk mengadakan konferensi dengan para orang tua siswa yang mengalami kesulitan dalam belajar.
9. Berikan siswa kesempatan untuk mengikuti ujian. Jika seorang siswa selalu hadir dalam setiap pertemuan di kelas, namun karena satu dan lain hal dia tidak bisa hadir pada hari ujian, Anda seyogyanya dapat memberikan kesempatan kepadanya untuk mengikuti ujian susulan dan jangan membiarkannya lebih dari satu atau dua hari.
10. Gunakan teknik “Front Loading”. Para siswa cenderung lebih termotivasi untuk belajar pada awal masuk sekolah. Pada awal masuk sekolah, selain diajak meninjau kembali materi pada semester sebelumnya, secara garis besarnya siswa juga diajak untuk mengenal topik-topik yang hendak dipelajarinya selama satu semester ke depan
11. Ajarkan para siswa untuk memiliki keterampilan memecahkan masalah. Ketika siswa Anda memasuki dunia kerja atau terjun ke masyarakat, sudah pasti dia akan banyak berhadapan dengan berbagai masalah yang harus dia selesaikan dengan baik. Melalui pembelajaran yang Anda lakukan diharapkan para siswa akan terbiasa dan terampil dalam memecahkan aneka masalah yang dihadapinya..
12. Berikan penghargaan atas setiap hasil dan usaha belajar mereka. Penghargaan yang Anda berikan akan memberikan motivasi kepada para siswa untuk mengerjakan sesuatu lebih baik lagi
13. Lakukanlah yang terbaik dari diri Anda dan bersikap adillah kepada seluruh siswa, maka Anda akan mendapatkan rasa hormat dari mereka. Krisis kepercayaan kepada guru seringkali bersumber dari ketidaksanggupan untuk menampilkan yang terbaik kepada siswanya.
14. Motivator terbaik adalah menghubungkan pembelajaran dengan dunia nyata. Jangan lepaskan pembelajaran dari dunia nyata siswa, belajarkanlah mereka hal-hal yang berhubungan dan menyentuh langsung kehidupan mereka Misalkan guru Matematika ketika sedang membelajarkan tentang sistem metrik, mintalah kepada siswa membawa kertas karton kosong dan botol-botol dari dapur mereka, untuk dijadikan sebagai media pembelajaran.
15. Di sekolah-sekolah tertentu, adakalanya siswa dikelompokkan berdasarkan kemampuan (kelas unggulan). Hal ini membuat mereka lebih menonjol dibandingkan peserta lainnya. Di satu sisi, cara ini dapat memberikan kemudahan bagi guru untuk memberikan pelayanan pembelajaran secara homogen, namun di sisi lain juga dapat menimbulkan kecemburuan sosial.

Sumber:
Terjemahan dan adaptasi dari :
Gisele Glosser. Tips for New Math Teachers

 
Aji Nur Kamil. Powered by Blogger.